Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

http://www.lampungpost.com/
Ke Pedalaman

1.
arus yang lamban. jembatan kayu tua
hitam batu bara
teronggok di tongkang renta
adalah susu perempuan negro
tersesat di borneo
seorang perempuan iban
menatapnya iba
“kita sama-sama matang oleh derita,
sama-sama malang di bumi yang sama.”
mourina, perempuan iban itu, kujumpai ia
di atas jembatan kayu tua
melintasi anak sungai
yang merana

2.
“tak ada yang kami miliki,
kecuali dengus nafas
kuli tanah sendiri,” masih kusimpan cakap
laki-laki bercaping pandan bagai seciap
anak ayam hutan
yang lalu bergegas hilang
ke kelindan asap pembakaran
pelepah sawit yang menua

3.
waktu kembali
ke pangkal jembatan kayu tua
perempuan dan laki-laki itu
mencangkung tanpa suara
bagai patung minta kembali ke asal-mula:
pohon, kayu, batu di rimba. saat itu aku merasa
tidak ke mana-mana; diri adalah pedalaman
yang diangan. kian dalam, kian banyak tak dikenal

/Batola-Yogyakarta, 2009-2011



Sampah-sampah Mengapung

ini zaman sampah-sampah mengapung
orang-orang gugur di mataku
tiap hari makin banyak yang kubenci
dan yang membenci lebih banyak lagi
masuk, hatiku, kunci dari dalam, kunci yang dalam!
cuaca semesta sedang buruk
para tukang tenung dan tukang sihir mabuk,
kepayang bayang-bayang kejayaan
tukang kebun tersingkir ke taman-taman api
para penyair bergerombol membincang diri sendiri
hatiku yang terasing menolak teronggok jadi sekilo daging!
“hatiku, janganlah kau bersedih melihat makhluk-makhluk
yang sekedar penduduk. mereka hanya penghuni mati
sebuah negeri di bawah garang matahari
tapi tak sanggup membakar sampah-sampah,
basah, berkilau lumpur warna-warni, terapung hanyut
melintasi taman-taman negeri.
jangan kau bersedih.”
dengan ini hatiku menyala, melebihi matahari
mengubah sungai dan muara
jadi api, jadi lautan api…

/Kalteng-Yogyakarta, 2010-2011



Minahasa

ekor kolintang menyayat mata mayat di bintang

/tomohon-yogya, 2009-2011



Nangabulik
– bersama kawan seperjalanan

ke balik bukit batu kita menuju
di kiri-kanan hamparan sawit
luas, tak terhala pandangan
diam-diam, ingatan kita bersekutu dengan sisa asap
pembakaran, membentuk sayap-sayap burung enggang
membubung ke awan menjadi mendung
bergulung, menaungi perjalanan
murung, kita dan bukit-bukit batu itu, bagaimanapun
penanda arah yang dituju. sekali waktu kausebut bukit sintang
di petaku terbaca bukit ketapang
sama saja. nama tak mengubah ia jadi emas
jangan cemas, kita akan tiba, kita telah tiba
sebelum senja, sebelum cakrawala bilang sudah
pada langit yang dipuja
lihat, patung kijang jantan itu
terlongong di atas beton bulatan tunggul kayu
terlongong memandang cahaya angslup
perlahan, bagai rawa-rawa kejam menarik cinta dan bayangan
di kaki-kaki betinanya
ia terus berdiri di situ, di alun-alun kecil timbunan waktu
barangkali menunggu, menyambut
jika anak-anaknya yang dilahirkan di sisa hutan jauh
di sisi-sisi tajam tombak pemburu
ke luar bersama barisan kera dan beruang
mengasah tanduk, gigi dan kuku-kukunya panjang!
kelak, di balik bukit batu ini
akan ada penanda lain: ruh enggang,
penantian kijang dan puisi yang juga terus memanjang….

/Lamandau, 2010 – Yogyakarta, 2011

————
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, 19 Januari 1975. Kini redaktur rumahlebah ruangpuisi dan ketua redaksi Jurnal Cerpen Indonesia. Memperoleh Anugerah MASTERA untuk buku puisinya, Gugusan Mata Ibu (2005). Buku puisinya yang akan terbit: Api Bawah Tanah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…