Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Stasuin Ijo Kebumen

Stasiun Karang Anyar lenyap oleh lelah
Stasiun Ijo jadi pilihan

Kami turun, berlari
Padahal rasa kantuk nan lapar kian bergumul,
Lantas kutulis sajak ini di teras malam stasiun agar terkenang esok
Agar menjadi peristiwa di secarik kertas
Sambil menunggu jemputan yang tibanya setelah kokok ayam jantan
Yang saling bersahutan seolah menyambut kami yang kelelahan.

20 Januari 2010



Wrutuk*

Seekor wrutuk berbaring di telapak-tanganku seperti mati
Saat gelombang mencumbu bibir pantai

Gelisah ia mencium bau laut yang khas

“tenang saja” Bisikku,

Lalu kuletakkan ia, tubuhnya masuk ke pasir sembunyi
Tak nampak jejaknya seperti sesajen yang hilang ditelan ombak selatan

Pantai Selatan, 21 Januari 2010
*sejenis rimata laut berukuran, kecil yang hidup di pasir pantai menyerupai



Di kapal antara Merak-Bakau Hueni

Penumpang-penumpang hilir mudik mencari sela istirahat memburu nyaman
Sementara bujuk rayu pedagang buku bertambah seru

Dua jam pelayaran kiranya cukup melelahkan

Di atas sana matahari terik membias deburan ombak di dinding kapal
Bagiku puisi ini tak berujung meski kapal telah bersandar di dermaga Bakau Hueni

Lalu
Waktu
Berlalu



Kangen

Setengah perjalananku ditandai debur ombak pelabuhan Merak-Bakau Hueni
Separuh hati ini masih segar ingat kau di sana
Sisanya tertambat kampung halamanku

Kangen
Belumlah sempurna perjalanan ini hingga keduanya jadi satu
Engkau dan kampungku
Kecuali bila kita tempuh keduanya demi lunaskan harapan

21 Januari 2010

———–
Fikri MS, Lahir di Muara Enim, Sumatera Selatan, 12 November1982. sejak th 1998 melanjutkan pendidikan di Jombang, Jatim sampai lulus kuliah th 2008 S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI Jombang.
Berbekal pengalaman ‘main’ teater di Komunitas Tombo Ati (KTA) Jombang, Agustus 2008 mendirikan Sanggar Teater Gendhing (STG), mengelola kedai baca (Beranda), di kampung halaman sampai sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…