Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Dody Kristianto

http://www.lampungpost.com/
Penunggu Pancang

terima kasih
sudah kau memarkan
tubuh kami

jejarum lancipmu
melebihi bilah pedang Persia
yang berulang
menghunus tubuh kami

tapi sungguh
kami tak kunjung mati
sebab kau bukakan lagi
pintu bagi kami

menuju liang:
alamat para penggali
mencintai namamu
yang tak mampu
kami seru lagi

2011



Pencatat Hikayat

ia selalu kembali
serupa padri yang tak mati
segala bara dipindainya
untuk langit yang tak ia dapati
di kamar sempitnya

2011



Pengusung Hujan

sepasang tanduk
lebih tajam
melukai pipi malam

sepanjang tatapannya,
sebarisan semut
pendar
berpencar
dari liang tubuh
menangkap kemercik

yang diyakini
sebagai benih cinta
untuk musim tanam
yang akan datang

2011



Tiga Tilas Kuping

bunyi pertama:
sepasang kesabaran
yang bosan melintas

sebab telah renta ia
melebihi kerentaan daging bumi
yang tak kunjung ia retakkan

bunyi kedua:
sepasukan pengelana
yang tak ingin berpulang
ke ketinggian

sebab purna sudah ia menarik
segala macam kerinduan
yang dipanjatkan manusia

ia lelah mendengar doa
dan semua mantra

bunyi ketiga:
selembaran kitab langit
yang alpa diisi

sesudah semua bidadari
turun ke bumi
menjelma sehamparan biji
paling putih

sehamparan biji nan letih
nan kelak tak kekal-abadi

2010



Perihal Singkat Selepas Hujan

pelangi:
ia benih yang lama iri
sementara hujan sudah merampungkan
sarapannya pada cawan pecah ini

sorak katak:
pulang, pulanglah ia pada tepian telaga
seusai sepi mengepungnya hanya
dan sayap beningnya tanggal sempurna

mengemas payung:
terbang sudah ia
sesudah rindunya yang semenjana
ditetaskan awan paling tumpah

2010

—-
Dody Kristianto lahir di Surabaya, 3 April 1986, lulusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Giat di Komunitas Rabo Sore (KRS) serta memberdayakan Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI). Karya-karyanya dipublikasikan beberapa media dan antologi bersama.

Komentar

Sastra-Indonesia.com