Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Muhammad Amin

http://www.lampungpost.com/
Secangkir Kopi Dingin

kaulihat malam hitam langit hitam
menetes-netes di keheningan
sehelai rambut yang direntangkan
sejuntai anggur di lekuk dagumu

kausesap aroma tembakau di sisa
raut malam menghela dingin mengeja detak
berlayar dalam aliran darah
yang harum mawar basah

kaudengar denting hujan beradu
di sesela jendela terbuka
dan malam hampir tandas
di haribaanmu mengaduh
terkelupas serupa kulit jangat yang terbakar
di atas tungku batu sedingin pualam

kaulihat kupu yang sekarat jadi abu
apa yang orang-orang lakukan di ruang tunggu?

Kemiling, 140211



Puan Tanjung

sungai ini membawaku berlayar
tanpa lubuk tanpa muara
batu kerikil di dasarnya
dan ruhmu mengendap di sana
sungai ini begitu panjang
terbentang tak ada ujung

mulut perahuku bercakap dengan udara
dan insang ikan
“di mana hulu
di mana hilir?” suaramu di buih air

sungai ini takkan mebawaku ke mana-mana
karena ruhmu masih di dasarnya
antara kerikil dan pasir

Kemiling, 170211



Kunang-kunang

ada kunang-kunang di matamu
yang berpendar cahayanya melingkupi hati
serupa bintang tujuh rupa
dan kita berlari di atasnya

kunang-kunang yang kepayang
mabuk anggur matamu
mengerlip mengejang
ditinggalkan gelap malam

Kemiling, 160211



Batu-batu yang Berdiam di Keheningan

yang berdiam dalam ceruk dadamu sungsang
burung-burung kepayang
setelah berabad pelayaran yang
tak membuatnya abadi
cerukmu lubuk sungai yang
nyaman disinggahi ikan-ikan

sepucuk daun luruh dari tangkai
berenang hingga kedalaman
menjumpa batu-batu yang
berdiam di keheningan

Kemiling, 200211



Ingatan Tentang Sebuah Rindu

Kenapa rindu ini pecah ditelan
debur-ombak galaumu?
Laut ini merekam jejak dari
Retakan mawar yang hanyut basah
Lambung karang yang berdenyut
Hikayat ombak dan rompak

Laut ini…
Telah lama menanti
Bidukmu belum jua tiba di teluk semaka

——–
Muhammad Amin, lahir di Kotaagung, Lampung, 31 Juli 1990. Mulai menulis sejak di bangku SMA. Karya berupa cerpen pernah dimuat beberapa media dan puisi dimuat majalah sastra Kakilangit-Horison dan dalam antologi bersama Memburu Matahari (2011).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…