Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Gampang Prawoto

http://sastra-indonesia.com/
Duapuluhtigamantra

kau
berlayar dari tetes
tetes tebu
sebab
basah yang kau arungi
adalah madu

empatpuluhenam helai lautan
tersisa duapuluhtiga mantra
sebab
lembab yang kau tanam
bersemi di sudutsudut mataku
menjadi ombak
menenggelamkan perahu
perahu bertatahkan lembar
lembar kertas
duapuluhtiga mantra
yang kusalin
dengan tintatinta airmata

Napis VI – plat”S” ,00012009



K u w a l i

Moyangku pernah menanam jarum pada pembaringan akhir tatkala awal kehidupan mulai menyemai airmata bahagia, bersanding pena, kaca dan daundaun bumi membasahinya degan segenggam garam samudera pada kuwali agar asin dan rasa tak lagi meninggalkannya.
Sedangkan akalmu pernah menanam cinta dalam septy teng dengan menggadaikan kemaluan di apotek apotek tanpa resep,karena nadimu telah mengabarkan pada jamur bahwa kegelisahan mulai tumbuh dan bersemi dimana-mana.

Kakekku pernah memisahkan nafsu dan cinta hanya dengan silatan bambu dan menggantinya degan semusim nyawa yang diramu dari buah mengkudu dan kunyit jawa.

Sedangkan egomu tak lagi menanam apaapa karena biji mentimun sudah tumbuh dimana-mana menjadi idiologi, peluru dan bom waktu.

Mlawatan -plat”S”, 01072009



Pada Angin

Mengalir…,
potretpotret usang
masa lalu, masa datang
semilir warta terbungkus plastik
plastik hitam tanpa episode

monolog
tanpa permisi
“kemana hatimu”
“masih bernyanyi di kamar mandi”
“jangan marah dulu”
“sebentar, masih kubikinkan kopi”
lalu pergi !

tanpa pamit,
malam menyerah pada pagi
saat angin hening sepenggalah,
perahu perahu menanggalkan sayap
untuk berdialog dengan Tuhannya.

Rahayu, -plat”S” , 01012009



Seperti Janji

Jendela yang kau tawarkan
seharum baitbait pagi
pesona buihbuih deterjen
menghias meja perjamuan hitam
diatas putih
menu
mengintip aroma kelezatan
mengarak pesta, bersulam
“tanpa anggur dan hawa”
sang penguasa, mengintip
dari celah lubang
kunci
duplikat
“sang raja”
foto kopi “bermeterai” tersenyum
sendiri sembari membersihkan sisa
pesta di selasela giginya.

Sumberrejo -plat”S” ,17022009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…