Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Indra Tjahyadi

http://www.suarakarya-online.com/
Maut Melesat

Dari perih jiwaku, maut bersayap melesat,
meledakkan waktu. Burung-burung marabu yang terkapar
di ujung cakrawala memekik, meniadakan tidur.
Aku terasing dari setubuh, tubuhmu yang telanjang
membentangkan kelam kuburku. Pohonan beringin tepi
jalan mengering tanpa umur. Jejakku mengerang di pusat
kabut, menginsyafi alur sedu kembara kesepian terkelu.

Kemudian ingatanku pun memasuki sunyi,
berusaha menangkap degup laut yang
ditenungkan manis
bibirmu. Kejantananku kian jalang kian malang
menempuh pelayaran luka, menjadi perompak bagi
hitam ombak dan lelumut. Tapi entah bagaimana di antara jaga
dan tidur masih saja kubayangkan besar pantatmu. Aku rasul,
tersalib di mula surup. Hanya ditangisi senyap dan pelacur.

2006.



Syair Setenang Bulan

sebab cinta terlampau perih
terlampau rintih menusuk kalbu
menujah hati

segarang gersang menghalau hujan
setenang bulan menghalau kelam
kureka warna senyummu

: ada hijau, putih, luka dan burung-burung
yang menulis ombak pada biru laut
lantas gerimis
gerimis yang lumpuh
yang dicambuk angin kemarau bulan agustus

di mana tubuhmu yang mulus
punggungmu yang tulus
senantiasa kurengkuh
kucumbu sepenuh syahdu

cintaku, ingatlah: bila masih ada waktu
bila masih tersisa rindu yang selalu
ini hati yang retak tak juga jengah
bermimpi melukis bentuk-bentuk kupu
di sepanjang lereng perbukitan payudaramu
yang harum

meski maut menjemputku sebelum subuh
sebelum sempat kukecup lembut ranum bibirmu

2006.



Keroncong Kemarau

Angin kering meniup cekak rambutmu,
tapi malam yang mengeras dalam bisu masih saja
membiarkan badai menyapu relung renung muram hatiku.

Barangkali musim yang kemarau telah
mengutuk khusyuk mayatku. Dari puncak gersang
dan taifun debu, kusaksikan arwahku
meluncurhancur!
Didera teluh tangis tahun bertahajud-tahajud.

2006.



Hantu Ujung Tahun

Kuinsyafi wajahmu. Kota-kota dalam keliaran
angin menggelora, membakari sukmaku. Di sungai hatimu
jenazahku hanyut, menanggung seluruh beban badai
dan rindu. Jejak-jejak burung di cakrawala melukiskan
garis derita arwahku. Punggungmu menghitam penuh peluh.
Segenap irama dzikir dan kelu menguras muram darahku.
Tapi kau tahu aku teguh mencintaimu, meski sorga
kian bergerak menjauhiku. Di ujung-ujung malam tak
berkabut kusebut namamu.
Tahajudku dipenuhi Rerintih, dikungkung
tangis dan aroma sembilu. Padamu segenap tafsir,
juga takdir, tak pernah lekang kuletuskan
penuh khusyuk. Aku requim yang dikekalkan pulau-pulau
kesunyian tersedu.
Matamu membelalak dalam ciumanku. Di ujung-ujung tahun,
kelak, aku hidup sebagai hantu. Tak habisnya menangisi lembut
bibirmu.

2006.



Dari Dasar Relung Renung

Dari dasar relung renung muram malam ajalku, kusebut
namamu. Rambutmu yang panjang kukenang dalam gebalau risau
gersang angin dan sedu. Sungguh telah kuletuskan
seluruh tangis dan tahajud bagi cantikmu. Tapi mayatku
yang kufur merindu masih saja terkubur murung di sudut-sudut
samun halimun. Kubayang lekuk lesung pipimu yang salju.
Di setiap tikungan jalan menuju rumahmu arwahku memekik.
Doa dosa badai berlindu menggeram, kekal, takziahi
keperihanku.

2006

Catatan Redaksi:
Indra Tjahyadi, lahir di Jakarta, 21 Juni 1974. Staf pengajar di Fakultas Sastra & Filsafat Universitas Panca Marga, Probolinggo. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya. Menulis esai, puisi dan cerpen. Anggota Dewan Redaksi Majalah Sastra-Seni IMAJIO.
Karya-karyanya, baik puisi, esai maupun cerpen, termuat di AIAA News (Australia), Bahana (Brunei), Horison, Jurnal Cipta, Sastra, Puitika, Jurnal Puisi, Kidung, Kompas, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Suara Karya, Pikiran Rakyat dan lain-lain.
Pada tahun 1997, kumpulan puisinya yang berjudul Yang Berlari Sepanjang Gerimis memenangkan Juara I Lomba Cipta Puisi Kampus Nasional 1997 yang diadakan oleh UI. Selain itu, juga tercatat sebagai salah satu pemenang pada Sayembara Penulisan Cerpen dan Puisi “Hadiah Tepak” yang diadakah oleh Majalah Sastra dan Budaya Dewan Kesenian Kabupaten Bengkalis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…