Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Fatah Yasin Noor

http://sastra-indonesia.com/
Puisi dalam Peti Jenasah

Aku menjumpaimu saat air mata itu telah mengering. Seperti puisi mati dalam peti jenasah. Tapi aku mencoba membongkar lapis demi lapis riwayat daun di situ. Seperti hujan kemarin, bau tanah dan asap dupa masih menyergapku. Aku tak percaya engkau telah tiada. Seharum bau kematian itu sendiri, dari semerbak kembang mawar dan melati yang menembus kamarku. Di sini, semakin tegas dan penuh makna saat senyum di potretmu itu terus memandangku. Dinding ikut gemetar. Padahal ribuan puisi telah kutulis atas matamu. Dan getaran jiwamu yang senantiasa bercahaya. Tak ada isyarat sebelumnya, bahwa perjumpaan mesra kita berakhir di situ.

Kalimatmu seperti ingin mendekati Tuhan. Dari tumpukan kertas yang terus menggunung, menjadi instalasi dalam rumahmu. Bayangkan bagaimana kata-kata berloncatan di situ, tak dibaca lagi. Karena ingatan semakin terbatas, dan engkau terus menggerutu soal kenangan. Mari kita terus menyimpan data itu untuk anak-cucu, katanya. Maka, tak ada yang lebih baik daripada kehidupan dan perbuatan.

2008



Tuhan dan Sungai

Seperti puisi. Masih ada Tuhan di situ. Masih terus beringsut seperti tak terpermanai. Cahaya yang juga masih menyemburat tajam dalam sengatannya. Siapa tahu di sebalah sana ada yang diam-diam meleleh. Mengeluarkan kegenitan alam yang merangsang daun untuk rebah ke tanah. Tapi ini masih
Tuhan dan Sungai
sore. Tentu saja ada yang tengah bersiap untuk turun ke kali. Sungai-sungi yang dulu menyimpan riwayat kejernihan air. Dan waktu yang terus berputar. Atas nama perubahan yang diam-diam membentuk wajahmu seperti itu. Tak bisa kembali seperti mula. Apa boleh buat, katamu, begitulah waktu. Demi waktu di mana orang-orang harus sibuk berkarya. Membongkar pikiran dan tenaga entah untuk apa. Ada kesejahteraan yang dikaitkan dengan pendapatan dari kerja keras. Sungguh sederhana, ketika dia bilang bahwa mempelajari teknik tidak harus duduk dulu di bangku sekolah.

Tapi ini masih sore, walau sebentar lagi turun malam. Artinya, matahari sebentar lagi tak menampakkan batang hidungnya lagi. Ia beringsut ke barat, tenggelam di barat. Sungguh setia sejak dulu kala, seperti engkau yang setia melukis untuk dijual. Tumbuh pertanyaan, apa artinya hidup. Engkau bisa berhenti sejenak, untuk sekian tahun tak melukis. Seperti mengundang inspirasi baru untuk bisa bekerja lagi seperti biasa. Tapi rasanya nonsens ketika tahu betapa hampa hidup ini. Hidup bagai melukis di atas air. Tapi tak apa, lebih baik begitu. Kita beruntung masih diberi kesempatan hidup. Hidup untuk lebih banyak berbuat, mengukir keringat jadi jejak-jejak yang dibaca waktu. Kenapa tidak?

2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…