Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Imron Tohari

http://sastra-indonesia.com/
Di Jalan Rindu Tak Usah Kau Tunggu Gugur Dedaun

Ujung garis mata lepas memandang
Langit dan laut menyatu, berbincang
Riak ombak mengangkut beribu buih
Adakah tersebut nama Kekasih?

Saat laut mengombak bergelombang
Airmata kemala memungut doa
Menatap ke depan lambaian nyiur merana
Ketam di pantai pergi membawa bimbang

Angin segara berhembus kepegunungan
Di sana tak ada ombak tak ada gelombang
Tapi hujan semalaman gugurkan dedaunan
Menelan suara-suara subuh yang tergoncang

O, laut kau mengombak;bergelombang
O, hujan kau menderas menelan subuh
Bukan harta benda, kekasih
Bukan kemolekan dan jabatan,asmara
Bukan sematamata sujud dan dakwah,cinta
Kelak kualitas kematianku jua sesungguhnya
Kekasih setia

(di tulis saat berayun di tengah laut menuju pulau sumbawa, 25 Nov 2010. Proses editing dalam pengedapan 5 Des 2010)

ke·ma·la n batu yg indah dan bercahaya (berasal dr binatang), banyak khasiatnya dan mengandung kesaktian.
ke·tam n kepiting berkaki enam dan bersepit, hidup di lumpur di tepi pantai, sungai, parit, atau di pematang sawah.
se·ga·ra n laut(an).



Kaukah Itu yang Malammalam Menertawakan Asmara
:Handoko FZ. Surat kepada Malaikat—anginkuamukapi!

angin membawa rindu begitu gemuruh
dedaun yang ada di matamu berebut ranting
mungkinkah masih terdengar kicau nuri
sedang di dinding hati tertulis hidup hanya mimpi

impian indah membuat lupa jalan pulang
impian duka menyalahkan nasib
beribu waktu kau punguti cinta
malammalam atmamu menertawakan asmara

5 Desember 2010



Dalam Poci Teh

sore ini
gerimis meratapi diri

dari poci teh tanah liat
kutuang rindu
yang kau buat untukku

23 November 2010

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com