Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Syair Ini Untukmu, Sasmitha

Serpihan waktu kita giring menuju sebuah rumah melewati lorong setapak jalan berbatu
Di kanannya tembok kokoh cat putih berlumut, bermulut, dan tak bertelinga
Di sebelah kiri berpagar bilah, ada pohon kapuk dan mangga. Di ujung jalan itu, nampaklah sebuah pelita yang menjadi pertanda sudah dekat akan kediaman yang kita idamkan sejak lama.
Semakin dekat terasa kian jauh, karna menanjak tebing. Kau meminta istirahat sejenak
Berpikir dua kali aku jadinya; bersandar pada tembok atau berteduh di bawah pohon mangga?
Tatapanmu bertanya
Aku tersenyum memandang sambil kuseka keringat di keningmu.
Kau pun lakukan yang sama terhadapku.
Lalu menggelegaklah semangat, kiri atau kanan memang pilihan. Sebab itu kita tempuh perjalanan ini.
Sasmitha, kau dan aku adalah anak zaman yang menepis garangnya warisan masa lalu
Mencoba melawan dengan tangan, kertas, dan percakapan di tengah iklan dan berita yang berlomba saling menjelas-jelaskan.
Kita lanjutkan langkah!,
Mengurai peristiwa demi peristiwa hingga tiba masa meraih apa yang dinamakan sebagai mimpi.
Syair ini untukmu, Sasmitha
Sebagai tanda kita mulai mengerti tentang makna perjalann panjang.
Warungkopi – bawah jendela kamar,

30 November 2010



Syair Seorang Senja

Peristiwa demi peristiwa terurai, sepertinya tak pernah henti.
Terurai seperti puisi ini yang malu-malu mengabarkan tentang diriku yang tengah dimabuk oleh ketakmengertian akan hidup dan kehidupan. Akan tetap i…
Di jalanan
Anak-anak berlarian saling mengejar mendahului mimpi-mimpi, berebut bola seperti memperebutkan kuasa.
Sementara di sini aku bertambah tua dan keriput, digiring usia yang semakin senja.
Aku rindu masa kanak-kanak. Dimanjakan, dibuai sekaligus dibuat menangis lalu ditimang-timang.
Apakah kembali muda adalah kebohongan?
Siapa yang mampu berikan jawab atas tanyaku ini?
Siapa …?!
Waktu bergerak, aku akan hilang ditelan umur, menjadi kembali pada keajaiban sebagai manusia.
Apakah aku kalah?
Karena apa kekalahan ini?
Ow …, penyakit!
Aku sakit dan menderita.
Apakah hanya si Jalang itu saja yang boleh hidup seribu tahun lagi?
Orang-orang sepertiku ini mau diapakan!?
Aku sepi mengulas mimpi dan peristiwa. Terhanyut dalam masa silam yang penuh canda kebahagiaan, berlari, dan berebutan …
Syair ini adalah kesunyian, tentang anugerah hidup.
Bahwa nafas adalah kebahagiaan, usia tua bukanlah kekalahan hanya saja waktu kian dekat memanggil-manggil dari kejauhannya.

Kamar di atas beranda, November 2010



Bela Sungkawa

Secangkir kopi hangat sedikit angkuh di atas meja, sebatang kretek menyala mengepulkan asap seperti keluar dari terowongan maut
Aku gelagapan menghadapinya, Ia tersenyum membuatku waspada
“Ada yang bisa saya bantu?” katanya.
Serak seperti suara Memedi
“Ada yang bisa bantu saya?” tanyaku.
Ia terkekeh mengejek, aku tersenyum cemas
Meremas-remas jemari sambil sesekali membenarkan lipatan map berwarna merah itu
Kubuka perlahan lalu suaranya terdengar lagi
“Kalau mau minta bantuan dana lain kali saja, KAS sedang Kosong!”
Kututup lagi lebih pelan, aku dendam.
“Terima kasih Bapak”
Kuletakkan korek api di atas meja tak tahu Ia
“Permisi Bapak”
Sahutannya datar saja “Ya …”, bersama kepulan asap rokok
Dua langkah menuju ambang pintu bersamaan dengan panggilannya yang lenyap ditelan ledakkan gas bensol aku tersenyum lagi, kali ini dengan segenap ucapan bela sungkawa.
“Bapak Memanggil saya?”

12 Desember 2010



Membakar Malam

Kunyalakan sebatang cigaro dengan korek api lidi
Membakar
Asapnya mengepul lalu pecah bersama nafas
Membentur dinding malam

Agustus, 2010



Sajak Hujan

Derai rerintik jatuh menetes di negeriku yang katanya bertuan baik lagi darmawan
Tanahnya subur
Bayangkan tongkat dan batu saja bisa tumbuh
…???

Januari 2010



Perang Hari Ini

Kawan kau dengar derup buruh melangkah pagi ini melintasi jalan raya yang pedas meski pagi begitu segar

Bendera-bendera merah tercancang kokoh di genggaman
Poster-poster kokoh
Spanduk-sepanduk kokoh menantang angin

Degap jantung mereka menjadi tabuhan yang mengalahkan genderang di medan perang
Teriakan mereka bertenaga dari kantung-kantung diapragma

Dan di hadapan sana telah berdiri pagar betis sembunyi di balik tameng-tameng fiber
Bersandar pada pentungan, bedil senjata, dan satu dua tiga tanki water pomp
Garang paling depan

Adu tanding perang hari ini
Dan kita Cuma jadi penonton, sekaligus juri, sekaligus sutradara yang paling jitu.

Perang hari ini.

Juli, 2010

Fikri MS, Lahir di Muara Enim, Sumatera Selatan, 12 November1982. sejak th 1998 melanjutkan pendidikan di Jombang, Jatim sampai lulus kuliah th 2008 S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI Jombang.
Berbekal pengalaman ‘main’ teater di Komunitas Tombo Ati (KTA) Jombang, Agustus 2008 mendirikan Sanggar Teater Gendhing (STG), mengelola kedai baca (Beranda), di kampung halaman sampai sekarang.

Komentar

ummi aisyah mengatakan…
katanya kreatifitas seperti batu; keras diseret-seret arus, tidak hancur diinjak beban..
sayang..! bakal berderai digerogoti lumut waktu

Jangan dulu menua...
Muara Enim, belum terlalu mengenal warnamu

"selamat berkreatifitas Teater Gendhing..Siapa yg hidup dengan seni, takkan menua"
ummi aisyah mengatakan…
Katanya..Kreatifitas seperti batu, tak hancur terseret arus, tak pecah dihempas ombak

Namun, hati -hati digerus waktu laksana lumut

Jangan dulu menua..
Muara Enim belum mengenal warnamu

Teruslah berkarya Teater Gendhing
Karena siapa hidup dengan seni, takkan menua

salam!
Achiriyah Maliq mengatakan…
Karyanya oun menggambar kekritisan juga tipikal orang yg senang berbagi pengalaman.
Semoga teater gendhing semakin sukses dan tak ada lelah untuk berkarya

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…