Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Heri Listianto

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
DALAM BALUTAN PERTIWI

Suara angin malam ini,
mengeja langkah mereka
yang berjalan tanpa kawan

sudah lama jiwa menanti semangat kalian

baju merah darah
dengan tali Negara,
kusam berbau nyawa.

Oh bumi
sampaikan salamku
pada ratu-ratu Negara
yang kau kandung selama ini

sebagai salam rindu perjuangan.

Surabaya , 10 Nov 2009



LIMPANG-LIMPUNG

Melandai diatas lantai
Badan kurus bergelimpungan lapar

Duri – duri semu berkata tak jelas
Menggulung pendapat-pendapat bodoh

Diam…! (katanya )
“kalian hanya meringis tak hajat “

ia berkepala tenang
menyelubungi kosa-kosa kata
yang hamper hilang

mereka terdiam kaku ditempat terpaku
sampai asap hutan
berontak menghadap kiblat.

28 Nov 2005



TINGKAI-TINGKAI TIKAR

Pada benih-benih malam yang diam
Menepuk tikar senja
Mataku berkedip melamun lelah

Kunci –kunci anehpun
Menggulung baja subuh yang tidur angkuh

Luntur…!
Hancur….!
Puncak merapi yang tidur disebelah tangan

Karena tahun malaikat
Berubah lelah

21 Okt 2005



KELANA HARI ASMARA

Dari ribuan debu asing
Yang berlari sepi
Membuat pijaran kataku
Menyapa sedikit luapan harum wajah cantik.

Entah rasa apa yang lewat
Berkata pelan
Kala tahun ini muncul,
Datang menyapa kita untuk berkenalan

Lautan angkuhpun
Kusiram dengan seteguk air telaga cinta
Untuk dikau kasih

Karena tahun telah berganti

17 Okt 2005

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…