Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Indrian Koto

http://www.lampungpost.com/
Lorong Ingatan
-bersama ms

melewati jalan dan keramaian ini
aku seperti dikembalikan pada masa lalu yang jauh
kenangan yang hanya ingin kuingat sebentar saja
tapi jalan dan simpangnya
keributan dan aromanya
telah membuat aku kembali remaja
bersamamu, kususuri setiap peristiwa lalu
masa lalu busuk yang sedikit melankolis
kota, bagaimanapun bekejaran dengan waktu
tapi di sini, kurasa segalanya terhenti
aku seperti dipulangkan sebagai bocah kecil
yang menyusuri jalan yang sama;
lorong, tangga, jalan becek, dan terminal
bagaimana sebuah kota hidup tanpa terminal?
aku menduganya, di sini tak ada keberangkatan
tak ada yang kembali
segalanya hidup dengan rasa
tapi tidak juga. gedung-gedung raksasa
tumbuh dari tanah
menghapus kenangan akan cericit ban, berisik calo
dan hujan perpisahan
bersamamu, kutelusuri kota yang sumpek
tak banyak yang berubah
sekaligus menumbuhkan kecemasan baru
akankah mereka, penghuni kota, kehilangan
perihal lain sehingga kota tak lagi layak di sebut kota

2008



tersebab rindu

sebab rindu tak memiliki pintu
kau boleh memasukinya dari arah mana pun
salipkan aku kekasih, di hatimu
agar tak ada lagi yang pergi
sesiang ini, di kota yang ramai ini
orang-orang hibuk dengan diri sendiri
dan enggan berbagi dingin
aku tak berani keluar rumah
tak bisa ke mana-mana
lalu jika kau pergi, aku bisa menguntit diam-diam
aku ingin melihat keramaian
tanpa terlihat siapa pun
di hatimu, di hatimu
kutemukan tempat ternyaman untuk
berbagi rindu dan rasa sepi
jangan biarkan dirimu kosong
orang-orang, dengan kesibukan yang monoton
menyembunyikan sepi di ketiaknya
sedang dingin mengepung kita dari sudut mana pun
matahari, matahari menumpangkan lemari es
di kulit kita yang gosong
garam telah diangkut laut ke muara jauh
sebab rindu tak memiliki pintu
biarkan aku sembunyi di hatimu
di luar, terlalu menakutkan
dan aku tak ingin berbagi rasa dingin dengan siapa pun
mungkin juga denganmu, sebenarnya

Yogyakarta, Juli 2



Lidah Kabut
-Raudal Tanjung Banua

Menyusuri lekuk tanjung dan palung yang lain
aku seperti melayari tubuh ibu
saat dimana duka cita menyerang malam-malam.
Hujan menduga-duga setiap ingatan
lewat lenguh cuaca yang terselip di ujung kampung.
Rumah adalah kubus-kubus sungai, kubus-kubus ingatan
tempat ibu menanam rindu.
Layar telah dipasang,
keberangkatan tak mesti melayari pulang.
Dan matahari, kedalaman yang entah di mana ujungnya
telah menyeretku dalam pusaran
yang mendamparkanku pada sajak demi sajak.
Angin melolong sedih, antara luka dan kesepian
ketika pantai tinggal segenggam ingatan.
Angkat sauhmu, uda
kita berlayar di laut ingatan.



Bagi yang cemas di Tapal batas

Aku akan pulang,
Sebelum kau sempat pamit
Duluan.



Ekstase II

mengenalmu, aku hanyalah jejak
dan kau adalah bayang
yang bersisa dari mimpi semalam
tatkala laut dipukat lupa
di sebuah malam yang hampir padam



Ada yang Tidak Biasa

ini malam yang dulu-dulu juga
dengan segala yang tampak sama
ada yang lain tumbuh di sini
menyelinap di tubuhku
getar yang tiba-tiba berlabuh
pada-Mu
——–

*) Lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bergiat di Rumahlebah Yogyakarta. Bersama kawan-kawan mendirikan Forum Diskusi dan Analisis (Fodka) yang intens mengkaji sosial-budaya dan filsafat. Ikut mendirikan dan aktif di Rumah Poetika. Beberapa tulisannya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di media nasional dan daerah. Puisinya dan cerpennya termuat dalam beberapa antologi bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…