Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Herasani

http://www.lampungpost.com/
Aku dan Mimpi-mimpi-Mu

Beranjak dari pertunjukan senja
ada yang masih belum berakhir
sebagai kisah;
perempuan beraroma cendawan menyisir kelam rambutnya
“aku ingin menyentuh malam,” ujarnya
Dan langit tak benar-benar kosong
ada geriap gemintang juga simpul bulan
Juga ruang bisu, senyampang waktu
“aku merindukannya,” lenguh kisahnya
Sementara kakiku telah lama beku
tak kuasa melangkah serupa pengelana menuai kisah-kisah
membuat cerita dari ruah mimpi
juga kutuk lunta
maka kulipat peta ku bekam kata
Menunggunya lindap dalam dekapnya

Tanjungkarang, Januari 2009



Embun Itu Turun di Matamu

Embun itu turun di matamu, bersama pagi yang pecah
aku tahu jalan bukanlah jarak; antara mataku dan matamu
tak ada celah tak ada lain kisah
Di setiap pagi aku menadah embun
yang menetes dari matamu
Dan di pagi yang ditentukan
seperti rindu;
aku telah beranjak meninggalkan pagi

Tanjungkarang, September 2008



Bulan yang Kuburu

bulan yang kuburu
kepundannya hitam
pohon yang kusemai
bersemi bulan
dongeng ibu bulan telah berdebu
anak-anak melupakan mimpinya
di warung kopi bapak bicara
“aku akan mencuri bulan tetangga!”
orang-orang gaduh
bergegas pulang menyembunyikan bulan
sejak itu bapak tak pulang-pulang
orang-orang tak lagi gaduh
di warung kopi mereka termangu
mendengar jerit lengking ibu
bulan yang kuburu
kepundannya masih hitam
; dimimpi-mimpiku

Tanjungkarang, September 2008



Salam Pada Hujan

seperti mimpi; hilir mudik aku bertualang
pada separuh perjalanan
bisik rindu tak mau beku dari bibirmu
yang selalu menunggu;
kapan langit jadi biru
dan sampai hari ini
masih kau titipkan kata
yang tertulis pada igauan terpanjang
: salam pada hujan
dalam kepergianku mengiringi langit biru

Tanjungkarang, 2007

*) Lahir pada 25 Juli 1988. Berkarya di Sekolah Kebudayaan Lampung. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Puisi-puisinya pernah dimuat di Lampung Post.

Komentar

Sastra-Indonesia.com