Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Arif Junianto

http://www.surabayapost.co.id/
Berkalung Mendung

demi segala kabut di puncak laut,
aku menunggumu
kerudung yang berkalung mendung
terkibas oleh riuh yang begitu deras
sebab jejak telah demikian koyak
dan waktu begitu bisu,
mengeras keras
tepekur ini,
wujud segala kata yang mengumpar
pada palung yang tak berdasar
serupa hujan yang kutulis, memusar
pada rumput, pada lumut,
dan bangkai perahu yang ditelan dermaga
seperti peziarah yang lelah memunguti arah
dan menyetubuhi tanah-tanah
demi sungai yang berhulu di dadaku,
aku menunggumu
tibatiba rapalan doa
yang menjelma sempurna
menjadi selembar peta
ah, tetapi dunia begitu luka
bahkan dalam keriuhanmu,
kerudung yang berkalung mendung itu
begitu saja penuh duka
jarakmu, jarakku, jarak kita
adalah wujud maut
berkarib dengan pantai
yang terus susut
bagimu,
mungkin kerudung bukan sekedar
berkalung mendung,
sebab bebatu kali
jelmaan langit yang menghantam bumi
hingga membuat tubuhmu: tubuh kita
begitu tak berjarak dari segala
retak
mungkin puisi hanyalah secuil sepi
yang oleh penyair,
dilebur dalam bahasa
yang begitu getir

Surabaya, 2008



Sebuah Perkenalan

aku mengenalmu dari gumantung kabut
dari gerimis yang dibaptis
laut, adalah persinggahan terakhir
hening tebing terpelanting
mencair, dalam belukar
yang mengungsikan ingataningatan liar
dalam kamar penuh mawar
yang tak pernah terlihat mekar
ijinkan aku menyebutmu, penyairku
sebab syair tak terasa anyir, di tanganmu
takdir mengalir, limbung
sepi yang dilarung mendung
dan segala kerinduan akan kematian
(aroma keranda, jasad kamboja
dan jejak-jejak mayat yang tersayatsayat)
lalu terciptalah kabut itu,
sebagai wujud perkenalan kita, penyairku

Surabaya, 2008



Aubade

adalah matamu yang melahirkan sajaksajakku
melampaui malam,
pada dasarnya yang paling kelam
lalu tubuhku begitu saja terlempar
di sebalik kelopakmu itu, ibu
adalah kecantikanmu, yang menggigilkanku
melebihi sepinya pagi,
dimana hening adalah awalmula segala bening
embun yang singgah di ujung pintuku
tergeragap disergap senyap
dan bulan yang lengang itu,
adalah wujud aslimu, ibu
sebab hanya raung mendung yang tiba di sini
dan segala rindu yang ditahbiskan
jutaan hujaman hujan
lalu, ibu
haruskah kularungkan segala benih kerinduan
pada denyar hujan dan geletar azan
yang ditabuh surausurau
dan selalu terdengar parau
ibu, kini,
nanti, doamu menjelma pagi
sebab,
aku terlampau sunyi
dalam ingataningatan yang kering
membuatku begitu terasing
maka,
untukku,
rebahkanlah gunung itu, ibu
hanya supaya lidahku kembali mudah
mengucap dan melafal doa,
melepas lelah
segala masa lalu dan kibasan sejarah
ah, mungkin saja segala doa
kini sudah kehilangan banyak kata

Surabaya, 2008



Sebuah Kesaksian Kecil

merapal namamu
adalah ritus,
bagiku
(sebuah malam terbalut belukar)
hampa ialah lambang
bebatang kerontang
gelombang pasang
waktu laut berdentang
keremajaanmu, Magdalena
adalah jalanjalan panjang
sulursulur pematang, yang
kemudian menghilang
(pada bangkai dermaga
dan sejarah yang begitu dahaga)
mungkin sungai
lelah bercakap dengan pantai
saat matamu lamur
dan tajam sangkur
merajam doa
merajam mantra,
ucapmu:
“akulah kesaksian
akulah kesangsian”
saat kau undur selangkah
dari detik yang lelah
berkisah
sebab kesaksianmu, Magdalena
terlalu ranum buat kau rangkum
sebab katakata
: liang kubur bagi para pendosa

Surabaya, 2008



Metafora Doa

doamu, ibu
hidup
hanya sebatang kertas usang
; parau kemarau
reranting kerontang
dan geletar guguran
kambojakamboja kuburan
berkisah
tentang pelaminan
tentang goyang kembang mayang
serupa sekar mekar
—dalam pendar
dengan segala metafora, ibu
kau tahu
aku berdoa
jelma dentuman
gumam mendiam
lalu di hulu,
ruhmu menunggu
mulai menari
dengan iring desing angin
dan getar rintih
bende
: suara azan
yang ditabuh ombak
dan langit sore

maka,
hanya dengan metafora, ibu
aku berdoa

Surabaya, 2008

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com