Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Anton Kurniawan

http://www.lampungpost.com/
Pertanyaan Kepada Kawan

Serupa sepoi aku datang padamu
menjinjing bening hujan yang pernah gigilkan tubuh kita
dan dengan cara paling santun
kuantar aroma kenanga dan harum melati
juga kenangan sekian ruas simpang yang telah kita lunaskan

tapi ini kali
engkau catat muslihat dengan bahasa amat paripurna
hingga segala cuaca tak lagi terbaca
sedang rinai yang pernah pecah di wajah kita
menjelma dongeng tentang negeri jauh
Kawan
di penghujung musim ini, padamu aku bertanya
ke lautan mana perahu ini mesti kita layarkan
saat gelombang tak lagi terpahami?

Bandar Lampung 20 Mei 2008



Lelaki Pengembara

Sebagai petualang
biarlah aku menjadi renta di batang-batang sajak
mengembarakan gelisah di belantara kata
lewat desau yang taburkan harapan
ketika batang usia kian ranum di kepala
dalam gigil
kutulis sepi juga luka
dan menyimpannya menjadi legenda
atau dongeng lengang kebun kopi yang rekah
ketika panas matahari pecah di ubun bebatuan
Lalu pada laju waktu
kubaca tanda demi tanda
serupa erik jangkrik
dendang siamang
senandung gugur daun sonokeling di pipi tebing
Jangan bertanya bilakah aku pulang
sebab semesta adalah rumah singgah
tempat beristirah
sekadar menggenapkan bilangan takdir
sebelum benar-benar sampai pada tuju
Dan ini kali dengan menunggang angin
aku jelajah kisah kanak di kampung halaman
kesah ayah di musim basah
keinginan-keinginan
juga kamu
yang selalu gagal aku lupakan
sedang istiadat biarlah menjadi pagar depan rumah
batas antara harapan dan kenangan

Simpang Propau, November 2008



Meditasi

Di detak jam
malam merapat diam-diam
pucuk-pucuk larut melambai di siut angin
dan gigil
adalah lelaki yang menjahit sunyi
di remang bulan sabit
sebab sejarah
tinggal silsilah
berselimut lumut
Sedang kita
hanyalah jalang yang selalu bimbang
bagaimana menjaga sejarah
hingga sepakat menulis peta sendiri-sendiri

Simpang Propau, Agustus 2008



Seperti Angin Kepada Ilalang

Seperti angin kepada ilalang aku menjumpaimu
dengan embus paling laun kuukir senyum di bibirmu yang ranum
atau menuntas gelisah di puncak kerling matamu
lalu pada rindang bulu lentik
aku bangun rumah istirah
tempat di mana waktu kita habiskan
Seperti angin kepada ilalang aku sampai padamu
menari dalam liuk paling santun
lalu di batas lelap
kubiarkan engkau rebah di bahuku
dan pada setiap sempat aku basuh gelisahmu
walau ribuan dentam jam harus aku habiskan
Seperti angin kepada ilalang aku mencintaimu
terus berembus
Tak habis-habis

Bandar Lampung, Februari 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…