Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Fahmi Faqih

http://www.pikiran-rakyat.com/
Alun-alun Selatan, 4 Oktober 2006

hari itu
langit menghantarkan sore
penuh debar
bergemuruh di dadaku
berdegup di dadamu

“siapakah yang sanggup
menahan ketukan rindu
di pintu hati yang beku?”

kau telah menghindari jalan ini ribuan kali
dan aku sengaja menyesatkan diri ke balik malam
dan mimpi

tapi hari itu
di sore yang penuh debar itu
air mata
sanggup melubangi batu!



Di Surabaya

di Surabaya
kita pun berjanji
selepas riuh senda Kya-kya*
kesedihan tak ada lagi
biarkan membubung bersama asap dupa
setelah Ampel** kita ziarahi

di Surabaya
kita pun menyadari
kelak
salah satu di antara kita

: pergi ke balik sunyi

*Kya-kya. adalah tempat makan yang hanya buka di malam hari di sepanjang Jalan Kembang Jepun. Dulu bernama Pecinan.

** Ampel. Kawasan tua, tempat penziarahan di mana Sayyid Ahmad Rahmatullah Sunan Ampel–salah satu dari Walisongo–dimakamkan.



Bohemia

aku ada di sini entah mengapa
seperti setiap perjalanan yang usai kulalui
yang selalu saja tak punya alasan tepat
untuk kosodorkan padamu -
seperti udara yang senantiasa kuhirup
namun selalu gagal untuk kulukiskan

aku ada di sini entah mengapa
tapi tolong beri aku kesempatan, sekali saja -
setidaknya sampai aku punya alasan tepat
kenapa aku selalu berpindah kota

sampai kulukiskan udara itu

Komentar

CHEMOT MARLEY mengatakan…
ka fahmi faqih,,,,kami sayang pian

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…