Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak W.S. Rendra*

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
BULAN KOTA JAKARTA

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya!

O, gerilya kulit limau!
O, betapa lunglainya!

Bulan telah pingsan.
Mama, bulan telah pingsan.
Menusuk tikaman beracun
dari lampu-lampu kota Jakarta
dan gedung-gedung tak berdarah
berpaling dari bundanya.

Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
bocah pucat tanpa mainan,
pesta tanpa bunga.

O, kurindu napas gaib!
O, kurindu sihir mata langit!

Bulan merambat-rambat.
Mama, betapa sepi dan sendirinya!

Begitu mati napas tabuh-tabuhan
maka penari pejamkan mata-matanya.

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya.

Bulanku! Bulanku!
Tidurlah, Sayang, di hatiku!



KALANGAN RONGGENG

Bulan datang, datanglah ia!
dengan kunyit di wajahnya
dan ekor gaun
putih panjang
diseret atas kepala-kepala
dirahmati lupa.
Atas pejaman hati
yang rela
bergerak pinggul-pinggul bergerak
ronggeng palsu yang indah
para lelaki terlahir dari darah.
Wahai manis, semua orang di kalangan
tahu apa bahasa bulan!

Kabur bulan adalah muka-muka
adalah hidup mereka
menggelepar bayang-bayang
ikan-ikan ditangguk nasibnya.
Gamelan bertahta atas nestapa
kuda di padang berpacuan
mengibas sepi merangkul diri,
angin tak diharapkan
cari sarang dan tersia.
Ditolaknya sandaran nestapa
betapa gila ditolaknya!
Dan bila bertumbuk ke langit
terpantul kembali ke bumi.

Lalu si jagoan bersorak
pada harap adalah gila yang lupa.
Penyaplah, penyap,
nestapa yang hitam ditolaknya.
Balik pula.
Pula ditolaknya.
Dan selalu ditolaknya.

Wahai, Manis, semua orang di kalangan
tahu apa derita bulan.



LELAKI SENDIRIAN

Kirjomulyo duduk di depanku -
memandang ke luar jendela.

Dan ia diam juga
lembah yang dalam
kabut biru di perutnya.
Tapi di hatinya
pucuk-pucuk cemara
dipukuli angin hitam.

Bagai kerbau kelabu ia
lelaki dengan rambut-rambut rumput.
Dan ia diam juga.
Tapi di hatinya ada hutan
dilanda topan.

Lelaki yang mengandung dendam
lelaki yang mengandung kesunyian
mengutuki debu-debu kiriman angin
mengutuki birunya kejemuan.

Bagai kerbau kelabu ia
lelaki dimakan dan memuntahkan kutuk
bara menyala tanpa air siraman.



PISAU DI JALAN

Ada pisau tertinggal di jalan
dan mentari menggigir atasnya.
Ada pisau tertinggal di jalan
dan di matanya darah tua.
Tak seorang tahu
dahaga getir terakhir
dilepas di mana:
Tubuh yang dilumpuhkan
terlupa di mana.
Hari berdarah terluka
dan tak seorang berkabung.

Ajal yang hitam
tanpa pahatan.
Dan mayat biru
bakal dilupa.
Tanpa air siraman.
Tanpa buah-buah lerak
kulitnya merut berdebu.
Awan yang laknat
dengan maut-maut di kantongnya
melarikan muka
senyum laknat sendirinya.
Ada pisau tertinggal di jalan
dan mentari menggigir atasnya.

*) dari “Empat Kumpulan Sajak” terbitan Pustaka Jaya.

Komentar

Sastra-Indonesia.com