Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Rukmi Wisnu Wardani

http://www.infoanda.com/
MAKRIFAT CENTHINI

setua umur bumi inilah aku datang dan pergi
berganti rupa untuk yang kesekian kali
tanpa tahu batas waktu menunggu

sekalipun sukmaku dan sukmaMu satu
sekalipun Kau berada di dalamku
dan aku berada di dalamMu
tetap saja, aku tak dapat mendahuluiMu
sebab tirai itu harus Kau yang buka

kalaupun asmara ini melahirkan agama
hingga setumpuk kitab suci
semua hanya sebatas rambu
tapi bukan pintu

: al maut! al maut!
inilah kebangkitan asmara yang sesungguhnya
inilah purba harta dalam tembang sakral kebirahian jawa
inilah perjalanan menuju arasy tanpa wadaqnya
inilah hakikat moksa seiring tarian mahabahnya

sesempurna rekah wijaya kusuma di hening malam
yang menyisakan wanginya di tepian subuh

Mei, 2005



TIRAI MALAM

laksana ego yang terkikis kematangan ombak
Kau telanjangi kebetinaanku selapis demi selapis
dan seutuh purnama itulah akhirnya
Kau jinakkan birahiku yang asma

mari, singkap lagi tarian purba nirwana itu
seperti ketika Kau lilit aku dalam cumbu paling nyala

ini aku merak betinaMu, datang lagi
dihantar gending jawa juga wewangian sukma
menyambutMu di perbatasan tirai malam

Juni, 2005



NGGER

memang, aneka bunga itu terlihat cantik
bila kautabur di atas kuburnya
apalagi selama segar terjaga,
harum berzikir di sana
tapi setelah layu, tidak lagi.

seinstan itukah cintamu padanya? duh ngger,
jangan biarkan ritual berjalan
seperti kuda tanpa penunggang
(sia sia ngger, sia sia)

bukankah telah kaumiliki kunci keabadian sejati?
pergunakanlah kunci itu sebagaimana mestinya
dan sering-seringlah masuk kedalamnya
agar dapat kau lawat kedalaman rahasia dibalik rahasia

ingat ngger, tanpa inti nyawa
segala yang ada hanyalah benda mati

August, 2005

Komentar

Sastra-Indonesia.com