Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Badruddin Emce

http://www.republika.co.id/
RUMAH ORANG TUA
: Raudal Tanjung Banua

Adakah masa kanakku
masih di tangan mereka?

Di ruang tengah rumah mereka
duka gembira tak dibuat-buat
tak perlu menjadi terang.

Coba lempar pandang ke luar!
Kebun samping mereka
telah kutanami tanaman semestinya.

Tetapi kepada rumput, kata hati
yang keprucut, mereka bisa maklum.
Setengahnya bahkan kagum.

Kawan, jika engkau bertamu
ke rumah pinggir jalan besar itu
hingga kemalaman
ada tersedia dekat ruang tamu, sebuah kamar
bagi yang ingin lepas yang sulit dilepas!

Maka engkau akan lebih merindukan mereka
dari pada merindukanku.
Dan mereka akan sering tanyakan kabarmu
kepadaku.

Cemburu aku!

Kroya, 2008



TEMAN ABADI

Sore itu, menjelang maghrib
demamku naik lagi.
Adakah udara sekitar turut mendidih?
Di dahan rambutan depan rumah
beberapa ekor burung jempalitan
seperti mendamba sesuatu
yang menyegarkan
Lalu aku mengigau!

Tentu kebahagiaan tersendiri
jika kata-kata penuh birahi ini
bagimu menyemangati
Dan kau tak halangi ini jadi abadi

Kroya, 2008



JERAMI

Bara kembali menjadi api. Dan marak setumpuk jerami yang disiram kesedihan murni. Mungkin kau juga turut menyiram jerami-jerami itu dengan kebasahan sempurna yang disukai api.

Anak-anak yang tertangkap usai mengambil yang ia sukai dan memamerkannya pada yang merasa mempunyai. Usai menjual beberapa butir yang ia tak pernah kenal rasa dan baunya, kini entah di mana. Mungkin tengah meringkuk dalam kandungan. Menghisap puting doa dan lamunan istrimu.

Bengkak matanya, tetapi tak kapok mentertawai semua yang kebingungan mencarinya, mencarinya untuk melepas kembali ke jalanan yang sama. Tetapi kita memang suka direpotkan.

Jalan-jalan sore hanya untuk berpapasan kembali dengan anak berwajah tak pernah dilahirkan itu, penasaran sekali lagi sebelum sempat mendandani sebagai manusia sejati.

Kroya, 2007

Komentar

Sastra-Indonesia.com