Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Y. Wibowo

www.lampungpost.com/
Sungai Sindang dan Jejak Pasir-pasir

Sejak air melulur pasir di lembar bukubuku buram
riwayat ikan menjelma bulan, luput tak tercatat
ada juga keong yang bertutur lisan
sebagai bayang masa silam
sulur cahaya berpendar menebar rawan
aku hadir sebagai pemulung muram
memungut secarik alamat

Memungut peraduan masa silam
tempat berpercik kembang setaman
denyar persetubuhan
seperti larik pasirpasir
jejak resap surut air

Mungkin saat itu udara menggelepar
pandangan tertebar pada yang nanar
kilau air berbuih meracau
desah asap lecut mendesau
dan semayup kehangatan telah beranjak
menyisa keriut noktah
menghampiri si pemulung berambut hitam
berkulit coklat, mencacah kenangan
mengkunyah masa depan
menciptakan alamat pada sungai
pada rompal batu dan jejak pasir
yang ingin kembali berdesir



Sekawanan Buih Danau Ranau

saat airmatamu telah jadi ikan
apa yang kucari di pulau itu?
dengan segala yang membuat aku bertanya
mungkin itulah makna buih --yang di kutuk angin

; berulangkali musnah tinggal rangka
tinggal cerita pelipur lara
yang datang dari kaganga
abjad-abjad yang kujelajahi wangi bunga
kelopak tujuh rupa, dan asap yang telanjang
bergelombang, lenguh senja berbaring
menggenang di udara.

sejenak buyar pandang, dari ketinggian jauh
kalimat-kalimat menjejal
menyeruak dalam kisah mu

; kanak-kanak yang dibalut resah
sebening mata bocah memeram tekateki
sebuah bayang
di ambang muram. ayo,... larungkan saja segala rencana
bukankah setiap tanya hanya akan menjadi fosil pucat
berserak dalam palung yang menagguk kekalahan
berpusar dan melingkar menjelma penari
yang lupa asal gema dan rancak tetabuhan
saat ombak mengeras dari alur menderas
itu saat kita melupakan sekawanan abjad
dan tak usah kau cari muara asal
jika ceritaku telah banal dan memar
karena yang kutemu di pulau seberang
hanya tinggal rangka kenangan
tentang seorang walihakim yang telanjang
di dalam jiwa dan langit batinnya
terseok membopong-bopong gelombang
saat itu airmatamu telah jadi ikan



Way Nipah

serumpun air murung
dayung menggelantung
di tiang layar
yang berputar
menggerit harihari
lelehan matahari
aku diam
menggendam pasir
tungku waktu, mimpi kandas
ke bumi tandas
maka kualamatkan
razah & mantram
ke tiang layar
ke senja temaram
merangkum jejak
ombakombak beranak
dian yang menyala
dari balik jendela
menjadi petunjuk
doadoa kikuk
dan untukku
seorang ibu
menyeduhkan kopi
melarungkan mimpi



Labuhan Maringgai, Arus Masih Menderas

belajar mengeja bulat bulan
langit menyatu dengan bumi
di batinmu, cakrawala dahaga
memburu pahlawan
di setiap penjuru
di setiap arus yang menderas

; anak-anak zaman lahir
dari arah utara
--arah pintu langit masih terbuka
dan membentangkan layar fana, angin lesap
udara senyap, tapi aku mendengar lirih dzikir
senandung patahanpatahan ayat
dari ribuan kitab
yang menjelma lebah dan kupukupu
terbang riang ke bulat bulan



Serenada Batu Balak

aku belum lagi menepi
dari deras arus yang menyeret
ribuan hari, yang kau rangkum
dalam bait lagulagu
sebuah batu -pecah oleh kisahmu
sebuah perjalanan
meniti jalanjalan
bayangan muram yang rompal
dan gumpil, berbongkah
pecah lebur berserbuk
serupa debu serupa pasir
serupa siul lagumu
menggema bersahutan
di hamparan padang lalang
di gunung di ngarai dan sungai
hanyut dari deras arus
sebelum akhirnya menepi
diam mengetam sunyi

Komentar

Sastra-Indonesia.com