Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Ahmad Muchlish Amrin

Berdiam di Makam Mbah Mutamakin
-bersama yunus, hasan dan umam

1/
Memasuki gerbang berwarna kuning keemasan
menyibak setapak sesak orangorang datang dari
mimpi silam,
sebuah lorong panjang masih rahasia
menembus gerbang lain,
gerbang yang siapapun tak boleh memasukinya.

Aroma melati dan kembang kecubung
merubung udara siang itu
dan setangkup senyum Mbah Mutamakin mulai
terlukis di lubukku.

O, kita bukan Syaikhana Khalil
yang berjongkok sepanjang waktu,
bukan pula Hasyim Asy’ari yang menerbangkan
merpati awan siang itu.

Mereka bagai parade karnaval menaiki angkasa
dengan tangga kata-kata usang penuh nyawa.

Kedatangan kita sekadar menjemput kangen
yang tertunda lima bulan yang lalu
dan memperbaiki krah baju yang terlipat

Angin berdiam di mata, memilah warna hitam dan putihnya
mengembus tipis dan berbisik pesan langit:

"Sampaikan pada Zawawi, Kuswaidi dan Jamal
bahwa di atas angkasa itu ada angkasa yang lebih sempurna"

angin meliut ke bukit, ke lembah-lembah, ke pematang dan sawah-sawah
kemudian mencipta rimbun kata yang lebih rahasia.

2/
Kita berdiam di makam mbah Mutamakin siang itu
menyaksikan matahari terbit dari randu
juga ada sebuah ruang terang
yang tak seorang pun duduk di sana,

Bila memaksa, akan terbakar kenangannya
lewat huruf-huruf usang lukisan kaligrafi.

Kita menunduk di dekat nisan berwarna putih bersih
dan lelaki berserban bulan mengusap ubun-ubun
yang melenyapkan bayang-bayang.

Tak ada yang dapat bertanya tentang impian cuaca hari ini
Tak ada yang dapat menafsir air mata musafir
yang terkulai di lantai ini.

"Kalian hanya dapat bermimpi
selebihnya puisi"

Kita menghirup wangi kembang yang ke sekian kalinya
berharap kata-kta melesat melansir segala derita:

semakin mengerti makna rahasia, perjalanan semakin panjang saja
dan tak akan pernah ditemukan ujungnya.

Kajen Pati, Juni 2007



Epigon Penunggang Kuda
-kepada Muhammad zuhri

Penunggang kuda putih
turun dari gurun waktu,
mukanya yang gersang dan hitam
seperti kuburan para nabi,
ia menggali lubang di sisi hari,
mengukir nisan dengan lukisan kaligrafi
dan pintu gerbang sederhana
di lubuk hati

Keringat begitu urai melerai kesangsian
matahari pada cerita silam.

Napak tilas tanpa alas kaki
adalah warna nyawa yang hijau
adalah kata-kata yang dirasakan.

Dan di matanya, tumbuh dua puluh ranjau
bagi yang menatapnya dengan gelombang.

Penunggang kuda putih menoleh ke belakang
dan udara masih segar:

kata-kata berlesatan seperti burung
bertekukur di atas dahan rahasia
bagai abjad-abjad melesat yang tak sempat dicatat,
lalu burung-burung pelan-pelan pergi
menuju bukit-bukit dan lembah-lembah,
diikuti penunggang kuda putih.

Ah, tekukur tak terdengar lagi,
entah kapan menderu kembali?

Sementara pagi telah usai
dan penunggang kuda telah pergi
menyelesaikan bait puisi.

Yogyakarta/Tang Lebun, Juni 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…