Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Salman Rusydie Anwar

http://sastra-indonesia.com/
Lumpur

900 hari lamanya, aku gali lubang tanah ini. Tengoklah ke dalamnya. Kau akan temukan kerangka tubuhmu yang terlilit akar. Akar dari segala akar, yang sulurnya terus memanjang dan merambat sampai ke dalam otakmu. Mungkin kau tak merasa bahwa sel saraf di otakmu telah menjelma menjadi akar. Penuh tanah. Penuh debu. Hingga kau tak mampu membedakan cahaya matahari dan kunang-kunang.
Di malam kesekian. Dimana rembulan hanya mampu menyorotkan kecemasan. Aku berteriak. “Kau benar-benar makhluk berasalusul lumpur. Hatimu menjelma lumpur. Otakmu penuh lumpur. Matamu tertimbun lumpur. Telingamu tersumbat lumpur. Bahkan, langkah dan rencanamu hanya sampai di kedalaman lumpur.”
Aku mulai lelah. Ingin menutup lubang tanah ini. Juga sekalian dengan akarnya. Aku tak ingin sel saraf otakku menjadi akar, yang merambat dan menghisap darah di hatiku atau mungkin juga di hatimu.

Kebumen 2010.



Sempor

Ini wadukku. Tempatmu merendam gelisah. Tenang bening air seperti hamparan peta tua. Peta yang ditulis mungkin oleh tangan seorang nabi dari abad yang silam. Susurilah lekukan air dan juga batu-batunya sampai engkau tiba di gerbang cuaca. Cuaca yang mengabarkan betapa senyummu harusnya lebih merdeka dari pada duri.
Juga panjatlah ujung pinus agar tanganmu sempurna membelai awan. Tidak. Mungkin juga mengelus langit tempat yang dipenuhi kota rahasia. Kota yang menurut dongeng orang-orang tua selalu berkemas untuk membangun hari esok dengan kepingan bunga bakung, eik dan juga cempereng.
Bunga-bunga itu akan terus mekar. Mengembangkan senyum para peziarah yang sehari-hari terlempar dari jalan yang gelap ke gang yang hitam.

Kebumen 2010.



Sangsi

Ada yang mencegahmu. Mungkin kesangsian. Saat kakimu melangkah hendak memasuki senja. Senja yang menenggelamkan seluruh kota, tempat para muallif menulis kearifan di selembar kertas buram.
Kaupun membisu. Bersandar pada tiang listrik yang menyangga seluruh aliran keluh kesahmu. Tak ada sekelar cadangan yang dapat kau raba di samping kiri dadamu. Dada yang selalu gemetar menahan hembus angin yang berlompatan dari bait-bait kearifan di atas selembar kertas buram.
Engkau terus terpaku di atas kaki air matamu. Air mata yang tak pernah sanggup melata di gigir waktu, yang hanya mampu berputar-putar sendirian tanpa tahu kapan waktunya harus pulang. Kesangsian telah menjebakmu diantara huruf-huruf kearifan yang ditulis muallif itu. Dan engkau tak terbaca dan tak bisa membaca. Engkau hanya sanggup menatap mata muallif yang terus menulis kearifan dengan rasa cemas di hatimu.

Kebumen 2010.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…