Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Ahmad Syauqi Sumbawi

http://sastra-indonesia.com/
Satu-satunya Dosa adalah Beda
-kaum t.

seorang menyuluh perhelai waktu, lalu
mengasah senjata dengan santan darah
dan mengentalkan tajam di dadanya
memanahkan aksara
dalam wilayah yang membuta mata

tuhan, cinta, negara, manusia, agama
meringkukkan makna logika
mampat dalam kelindan kening hitam
menyembah tuhan
yang berkaku mengerek waktu, lalu

seorang memandang kata dengan lup
dan telah cukup, makna bahasa melampui hidup
bersama mata menggaris sinis
mengadili wajah-wajah bopeng penuh mimis

satu-satunya dosa adalah beda, katanya.
setan gentayangan

sungguh, kebenaran maha tunggal, kataku
dan tentu, tidak bersekutu denganmu

Lamongan, 2010



Warna Terindah

mungkin aku salah, tapi laiknya
dia telah merampok surga dan neraka
dari tangan tuhan
dengan membawa pentungan dan
suara lantang berkobar-kobar, membakar semua
dengan namanya yang mencipta getar

mungkin dia benar, tapi laiknya
dia telah berkehendak semena-mena melebihi tuhan
dengan tanpa tawar-menawar memakukan dosa
pada hitam, kuning, putih, coklat, dan sawo matang

akulah warna terindah, an sich

ah, mungkin dia benar-benar memalsu ayat-ayat tuhan
dengan mengabaikan
jenisnya yang laki-laki dan perempuan
jenisnya yang bersekutu membentuk suku-suku
jenisnya yang bernegara bangsa-bangsa
dan tiap-tiap warna yang mampu menjadi warna terindah

mungkin aku salah, tapi saudara kembarku berkata
bahwa dia hanya makhluk tuhan, tapi, sepertinya
dia telah mencuri dan memakai jubahnya
dan telah membangun surga dan neraka
pun hanya s-u-r-g-a dan n-e-r-a-k-a

Lamongan, 2010



Bercakap dalam Rahim
-k

aku mengetuk pintumu dengan sejahtera
meski masih tertutup inderamu atas cakrawala

—yah, rungu kuat menembus buntu, ibu—

bukankah dia telah kalam padamu,
dan bersaksi atas diri sendiri
dan kau telah mengikat hati
pada janji azali ini

dan kau mengembang dalam darah,
daging, tulang, sumsum, otot, kulit, dan bulu
dalam bentuk sempurna atas sebuah tanda
lantas menggeliatkan tangis tanpa airmata
atas bercampurnya dunia yang kelabu

maka, ingat janji azali ini
jangan terampas lupa
karena bagi para kekasih, lupa adalah dosa

—yah, rungu kuat menembus buntu, ibu—

benar, pun aku harus menggenggam janji sendiri
menjaga kata-kata yang menembus ibu
dalam rungu lewat liang udara
menulis pelajaran mula
menjaga segala tingkah,
karena segalanya, tak pernah membekaskan sirna
yang tak ‘kan berpisah di muara
karena hanya mata yang tak sanggup membaca

—yah, rungu kuat menembus buntu, ibu—

yah, aku mengetuk pintumu dengan sejahtera selalu
dan tak akan menutupnya,
lantaran tak pernah mampu, membuntu

Lamongan, 2010

Ahmad Syauqi Sumbawi, sebagian tulisannya (cerpen dan puisi) dipublikasikan di beberapa media massa baik lokal maupun nasional. Juga terantologi bersama dalam Dian Sastro For President; End of Trilogy (2005), Malam Sastra Surabaya (2005), Absurditas Rindu (2006), Sepasang Bekicot Muda (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Gemuruh Ruh (Pustaka Pujangga, 2008), Laki-laki Tak Bernama (DKL, 2008).
Sementara bukunya antara lain Interlude di Remang Malam (puisi, 2006), Tanpa Syahwat (cerpen, 2006), #2 (cerpen, 2007). Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (Novel, 2007, PUstaka puJAngga), dan Waktu; Di Pesisir Utara (Novel, 2008).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…