Langsung ke konten utama

1975 [Sajak Robin Dos Santos Soares]

Robin Dos Santos Soares
http://www.kompasiana.com/robin

Aku merasa kesepian, kehilangan nalar, suara hati.
Tersesat di hutan-hutan hijau.
Pagi itu 7 Desember 1975, aku berlari melawan arus manusia dan binatang.
Bersembunyi di batu-batu tajam melihat kupu-kupu hitam terbang dengan bom.
Sejarah sedang bergerak dengan genosida.
Ibuku korbankan nyawanya untuk aku:
berlari dan berteriak sampai di ujung dunia.

Kamu sudah menyaksikan kematian ibumu, adik-adikmu,
saudaramu tidak tahu apa arti perang, politik dan ideologi.
Hari ini aku mendekati aroma kematian ibuku,
aku masih dalam kesunyian dengan jiwaku, jantungku yang mulai membeku.

Aku ingin berlari lagi melewati hutan-hutan hijau, bersembunyi dibalik batu-batu tajam. Mencoba mengingatkan mayat-mayat tak terhitung, berdiri di tepi gunung Matebian dengan protes terhadapa perang, pemerkosaan, pembunuhan massal.

Kini tenagaku hanya bergerak dari gubukku mengatur nafas, membuang ludah. Tanganku tidak bisa bergerak dengan pena. Hatiku tidak buta dengan sejarah yang mulai hilang bersama kotoranku disantap anjingku, babiku yang rakus setiap hari.

Patria ou Morte

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…