Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Hang Kafrawi

http://www.riaupos.com/
pada subuh yang mengumpal

subuh mengumpal di hati
lubuklubuk sunyi aku daki
zikir bulan mengalir purnama
laut cahaya terbentang ke jiwa

wajahku telah menanti
aku sangsikan juga diri
mengaligali gelap hari
matahari melapuk mimpi

sujud yang kudedahkan darah
membangun kisah dari gelisah
sendiri aku ziarah rumah kalah
tak ingin aku menyerah

seperti air aku mengalir
ke cerukceruk nadir lahir
terus berlayar perahu zikir
tak juga sampai zahir

ini jiwa tak kan lelah
makam makam di dada merekah
sayapsayap jiwa menyerlah
terbang aku mengepal tanah

asal mula adalah aku
merajut segala waktu
dari rerumput berdebu
membujuk tasik nafsu

kini pada subuh yang mengumpal, aku bawa selaut rindu untuk menyerah padaMu. aku tak mampu menafsir gelap dengan kebutaan hati. pelayaran yang Kau bentang di gelombang insangku, menciptakan kehausan yang tak pernah reda. aku kekeringan di musim hujan, tanpa airMu. aku kegelapan di siang yang menyerang, tanpa cahayaMu. kini pada subuh yang mengumpal, aku menyerah kepadaMu. Allah aku tunduk.



canggung

Anakku mencium waktu di pipiku. Dengan riang, ia selimut luka yang berdarah di hatiku, karena pagi tak sempat kucicipi. Sentuhan tangan mungilnya, mengabarkan hidup tak perlu ditakutkan. Kedua mataku yang terpejam, terbang melantas dinding gelap; matahari semakin meninggi, membentang pandang, namun aku tak berani menyiang kisah. Ada api yang terpadam dalam kenangan semalam; adakah kejujuran mesti kita tuntaskan di taman kesepakatan yang telah diikrarkan? Tidak, aku tak ingin mengulang-ulang kesia-siaan. Di pudu hari yang menghantarkan harap, tak perlulah kita menarah kebenaran dan kesalahan, mengokah perih dan pedih, menetak suka tak suka, karena kita hanya pengembara sementara yang memahat detik jadi cinta.

Kita adalah kekalahan dari perjalanan yang kita buat sendiri. Sebenarnya, tak perlu membakar kecurigaan untuk menuai kebenaran. Pada setiap cemas ada benih kasih yang kita serongkan jadi benci. Kitalah yang menabal pedih di atas waktu; menyadap pahit di lumbung perih dan membiarkan hati terbakar benci.

Kau mengelap terik matahari di kening anakmu. Keringat dari perjalanan menemukan siang, berjatuhan di mata; menciptakan sungai yang menghanyutkan. Anakmu yang baru pandai mengeja cahaya, terkurung angin, diterjang ombak lalu berdendang tentang ladang yang gersang. Kau patahkan kepercayaan dari tubuhmu sendiri; berharap luka dapat mengiba dan meredam perang. Tidak, kau cuma akan memetik penyesalan dari kepasrahanmu. Jangan biarkan tujuan hangus ditelan kesedihan. Tatap masa akan datang seperti memandang anakmu yang sedang malantunkan nyanyian. Ya, kau akan mengerti pengorbanan sebagai taman untuk meyemai jiwa yang damai.

Dalam pelayaran ini, kau, aku adalah dua perahu yang satu. Memang hela yang kita lantunkan menganak arah karena angin mengikut musim. Kita rela saja perbedaan menyala; setiap tujuan ada diri kita yang sesungguhnya. Namun terkadang kita ungkal bertahan pada arus berharap gelombang tak menghempas dan berlabuh sebelum sampai ke pulau impian.

Memunggah harap, anak kita menyusun tawa dari serpihan sepi dan kita masih saja mencongkel siapa yang salah dan siapa yang benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…