Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Joko Pinurbo

http://kompas-cetak/
Layang-layang Ungu

Celana ungu pemberian kakekku telah kujadikan
layang-layang. Kulepas ia di malam terang.
Terbang, terbanglah layang-layangku, celanaku,
mencium harum bulan: ranum bayi
yang masih disayang waktu;
menjangkau relung bunda di palung senja.
Saat aku sakit, layang-layangku menggelepar-gelepar
di bawah jendela, lalu lenyap entah ke arah mana.
Telepon genggam menyampaikan pesan dari Ibu:
“Layang-layangmu yang lucu telah mendarat
di dahan pohon sawo di belakang rumah tempat kau
dan bulan dulu sering menyepi membaca buku.
Ayahmu yang suka melamun segera berlari.
Ini baru layang-layang, katanya girang sekali.
Kini bapakmu sedang menerbangkan si ungu
di atas bukit di samping kuburan kakekmu.
Bulan sedang nakal-nakalnya. Salam rindu. Ibu.”

2006



Usia 44

Dua kursi kurus duduk gelisah
di bawah pohon hujan di pojok halaman.
Dua ekor celana terbang rendah
dengan kepak sayap yang makin pelan.
Yang warnanya putih hinggap di kursi kiri.
Yang putih warnanya hinggap di kursi kanan.
Dua ekor celana, dua ekor sepi
menggigil riang di atas kursi
di bawah rindang hujan di pojok halaman
dan berkicau saja mereka sepanjang petang.

2006



Sketsa Selamat Malam

Di bawah alismu hujan berteduh.
Di merah matamu senja berlabuh.

2006



Malam Insomnia

Tenang saja, tak usah khawatir.
Aku berani pergi sendiri ke kamar mandi.
Aku akan baik-baik saja.
Tak ada hantu yang perlu ditakuti.
Oh tidak, aku tidak akan bunuh diri
di kamar mandi. Aku akan segera kembali.
Dari tempatku terbaring sayup terdengar
suara bocah sedang menjerit-jerit ketakutan.
Kemudian hening. Setelah itu ia tertawa nyaring.
Bu, aku sudah selesai mandi.
Di kamar mandi aku sempat berjumpa
dengan gembong sepi nan gondrong rambutnya.
Bagus. Nyalakan matamu.
Segera tuliskan kata-katamu
dengan sisa-sisa sakitmu
sebelum aku goyah, berderak, rebah
karena tak sanggup lagi menampung
gelisah tidurmu yang semakin parah.
Baiklah. Doakan menang ya, Bu. Aku akan duel
dengan harimau tua yang sering merusak tidurku.

2005



Harimau

Aku masuk ke relung kata, mau bertemu
dengan bermacam-macam almarhum,
malah harimau gila yang kujumpa.
Kuasah pena, kutikam lehernya.
Harimauku terluka parah,
penaku nyaris patah.

2006



Himne Becak

Dua puluh tahun yang lalu aku melihatmu
sedang melamun di dalam becak yang kauparkir
di depan warung makan “Sabar Menanti”.
Petugas ketertiban kota datang menggarukmu:
becak dan tukang becaknya diangkut mobil patroli.
Sepuluh tahun kemudian aku melihatmu
sedang mengantuk di dalam becak yang kauparkir
di depan rumah makan “Sabar Menanti”.
Petugas ketertiban kota datang menggarukmu:
becak segera diangkut mobil patroli,
tukang becaknya dipersilakan pulang berjalan kaki.
Dan malam ini, sayang, aku melihatmu
sedang mendengkur di dalam becak yang kauparkir
di depan restoran “Sabar Menanti”.
Petugas ketertiban kota mengayuh becakmu,
membawamu pergi ke tempat yang sepi
sambil tetap membiarkanmu dininabobokan mimpi.
Tidurmu begitu manjur sampai kau tak tahu
bahwa becakmu sedang parkir di depan kuburan.
Aku tinggal rintik-rintik hujan ketika subuh datang,
ketika kau menggeliat dan berbisik lantang
sepanjang azan, dan becakmu dicari-cari penumpang.

2005



Sajak Suradal

Sebelum ia berangkat bersama becaknya,
istrinya berpesan, “Jangan lupa beli minyak tanah.
Aku harus membakar batukmu yang menumpuk
di sudut rumah.” Dan anaknya mengingatkan,
“Besok aku harus bayar sekolah. Aku akan giat belajar
agar kelak dapat membetulkan nasib Ayah.”
Setelah berjam-jam mangkal dan tidak juga
beroleh penumpang, ia berkata kepada becaknya,
“Pulang saja yuk, sayang. Perutku sudah keroncongan.
Siapa tahu kita mendapat orang bingung di jalan.”
Di jalan kampung yang remang-remang
petugas ronda mencegatnya dan sambil merinding
bertanya, “Suradal, mayat siapa yang kaubawa?”
“Ini mayat malam, Pak. Saya akan menguburkannya
di sana, di ladang hujan di belakang rumah saya.”

2006



Pasien

Seperti pasien keluar masuk rumah sakit jiwa,
kau rajin sekali keluar masuk telepon genggam,
melacak jejak suara tak dikenal yang mengajakmu
kencan di kuburan pada malam purnama.
“Aku pakai celana merah. Lekas datang ya.”
Kutengok ranjangmu: tubuhmu sudah membeku
menjadi telepon genggam raksasa.

2006



Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?

Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkeraman luka.

2005

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com