Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Inggit Putria Marga

http://cetak.kompas.com/
tiga angsa

1. bulu putih
terapung sendiri di tepi rawa, mengitari hutan seroja, mencari-cari sisa purnama.

ia temukan wajah matahari yang menggenang sia-sia, koyakan luka daun-daun padma juga kodok yang begitu dikenalnya. apa kabar anda? sapa angsa yang putih santan bulunya, kodok menyelam ke dalam rawa. pendaran air mengombang-ambingkan luka daun-daun padma, memecah wajah matahari

yang menggenang sia-sia.


2. bulu hitam
bersampan di tengah rawa, pikiran-hati gulana, tak satu pun ikan termangsa.

ia mengutuki cuaca, menyumpahi matahari yang tajam sinarnya. diserapahinya pula angin yang meletakkan sampah plastik di sampannya. pergi anda ke neraka! maki angsa yang hitam batu bara bulunya. sampah plastik menyelam ke dasar rawa.

di sana, sesosok kodok terganggu kesunyiannya.


3. bulu putih hitam
melayang di atas rawa, dunia bagai air di kelapa terbelah dua.

ia merindukan mama dan papa. mama yang putih dan papa yang hitam. mama yang terapung letih dan papa yang bersampan dendam. saya kangen anda berdua,

lirih angsa yang yin-yang warna bulunya. dipandangnya dua angsa di tepi dan tengah rawa, ditatapnya awan-awan bergerak ke utara. ia terbang menjauh dari rawa: hal yang selalu melemahkan kepak sayapnya.

2008



menjelang hari raya

anak anjing jenis golden retriever—bulu cokelat lebat dan mata agak berkurap—gemetar di depan pintu toko sembako. orang-orang berkelebat di depannya. orang-orang hanya melewatinya. ia pandangi hutan manusia. dalam duduk terengah-engah, ia tebarkan kutu- kutunya.

anak manusia jenis betina—kulit arang dan hidung bundar pinang—gemetar di seberang pintu toko sembako. orang-orang berkerumun mengelilinginya. orang-orang sibuk melempar tanya. ia pandangi jasad lelaki di depannya. dalam duduk

terengah-engah, ia dekap pisau lipatnya.

anak burung jenis gereja—paruh lancip dan cakar serapuh abu dupa—gemetar di atap teras toko sembako. orang-orang tak pernah mendongak padanya. orang-orang hanya mengalir bagai liur naga. ia pandangi anak anjing dan anak manusia yang gemetar seperti dirinya. dalam hinggap terengah-engah, sebutir peluru entah dari mana, menembus tubuhnya.

2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…