Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Dahta Gautama

http://www.lampungpost.com/
MENGGAMBAR ANGIN

mari hikmati bunyi angin
yang berputar di pucuk alang-alang.
ada yang terlempar dari waktu
yang terus meranggas.
Serupa hujan dan malam
ada hantu yang tak memiliki kaki
dan engkau terlempar dirimbunan angin
waktu terus berputar
dan janji yang telah kita ucapkan
disuatu senja
menjadi cerita basi.
mari menggambar angin
ketika sesungguhnya, hidup sekadar
menelusuri jejak gerimis

Lampung, 2008



MATI

Engkau tak pernah memahami arti
bunyi angin di halaman rumahmu.
Engkau juga tak pernah bisa memahami
makna taman yang gelap tak berlampu.
kunang-kunang, kelelawar dan lengkingan
anjing tak terdengar.
Engkau tak mungkin paham
bahwa tuhan pernah tak ada.

Lampung, April 2007



BELATI DI JAKARTA

Kau torehkan belati di pipiku
sebagai kenang-kenangan bahwa kita
pernah bertemu dan bersahabat
di Tanah Abang.
Aku menjadi bromocorah
karena ibu mengutukku.
tapi aku tak pernah menjelma batu.
Sampai pada suatu malam penuh angin
kita jumpa di Bongkaran
ketika itu kita bertengkar soal Tuti
pelacur yang ketiaknya beraroma kantil.
kita tak pernah peduli, ternyata Tuti
bukan perempuan Madura
rasanya pun biasa-biasa saja.
Engkau pernah bercerita
tentang kampung. ayahmu cuma
petani kembang hias. ibumu mati, sebelum usiamu lima belas.
Kau terlalu banyak bercerita dan aku tak
bisa mengingatnya. akhirnya kita berpisah.
Kau bawa Tuti dan aku bawa bekas belati.

Lampung, April 2007



MENYUSURI GERIMIS

Bersama angin, aku menyusuri
gerimis petang.
Jam-jam berloncatan
tetapi basah ini tak pernah
sudi memahami duka-duka.
Aku menulis sajak tentang
burung gereja. yang tertembak
senapan anak-anak.
Ah. sepanjang malam aku mesti
mengurung diri di runtuhan
sisa hujan. sambil menggambar
warna gerimis, senapan dan burung gereja

Lampung, April 2007



DUNIA SUNYI (2)

Suaramu terdengar meringkih
di telingaku.
menelusup di kedalaman matamu.
Aku tahu, tak ada yang lebih
nyawa dari sekadar bertanya kepada
jejak sejarah kita yang telah hilang
di trotoar itu.
Engkau sesungguhnya telah menjadi
bangkai
dan sunyi memiliki mata
serupa pisau
dihujamkan olehmu
berkali-kali di ulu hatiku

Lampung, 2008



DUNIA SUNYI (3)

Kupu-kupu di kebun mawar
gerimis turun disepanjang malam.
aku sudah lupa
bahwa, untuk mempersuntingmu
aku mesti bersenggama dengan sunyi
yang berdesis di kelopak bibirmu.
Kita, akan merintih bersama, Savitri
sambil memangku cahaya bulan
yang bolong di kelambu kita.

Lampung, 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…