Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Sajak-Sajak Rukmi Wisnu Wardani

http://www.republika.co.id/
PUCUK ILALANG

walau angin tak henti mengoyak tulang
walau rimis menggenang di desah malam
untukMu, sekuntum bunga telah kupersiapkan

kalaupun tiba hari keputusan itu datang
izinkan kutuntas perjamuan
laksana nyanyian tafakur burung
di pucuk ilalang

November 2008



WAJAH SENGKETA

seperti kau saksikan,
kawasan hijau nenek moyang
kini berstatus sengketa

pasar malam diam-diam digelar
di tanah kuburan. jual beli pengetahuan
tawar menawar nilai kehormatan
adobsi sampai aborsi janin keluhuran
nampaknya sudah jadi hal biasa
jika dijadikan kudapan atau barang muntahan

bila semua mengaku teman saudara seiman
lantas mengapa lapak topeng dan belati laris
berjualan di pintu gerbang?

sesekali ada baiknya
melakukan seppuku di muka cermin
agar dapat memandang dan memeriksa
bahkan menyunat rupa kemaluan yang ada

daripada berbondong-bondong
(keliaran di tanah kuburan)
sambil membandrol harga diri
sesuai selera yang diagungkan

daripada meneriakkan nama-nama Tuhan
sementara barisan kurung batang
menyaksikan sam…

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

http://www.suarakarya-online.com/
Bahasa Mercusuar yang Dikuburkan
: bagi indra tjahyadi, "si ekspedisi waktu"

Berabad-abad, waktu (bukan terumbu), terus tumbuh
Mekar, tak tersentuh tangan penyelam
di kedalaman
Bukan. Waktu, berabad-abad waktu, bahkan
bukan bangkai kapal kayu, hantu laut dan hening hiu
di kediaman dasar yang jauh

Detak dan laju watak dari waktu.
Mengalirkan kapal-kapal ke daratan baru
Pun kapal selam masuk ke kedalaman
berbekal zat asam
-dan merasa begitu sempurna penemuan!

Tapi adakah yang lebih berdenyut
dari arus, lebih kencang dari hanyut?

Adalah kami yang terus menggali
Reruntuhan mercu suar yang dikuburkan
Adalah kami yang membahasakan kembali
Isyarat dan kilau pilu cahaya pulau
yang dimusnahkan
Sampan kami dari kiambang. Zona kami
zona terlarang. Tak tersentuh logam dan mulut kapal
Kami tak butuh pelampung dan zat asam, bahkan
pada cuaca kami tak lagi bersandar derita

Kami hanya menabur garam, dilimbur pasang
bagi ular jahanam
di pokok menara yang kami nyalakan
dengan cinta. Dan…

Sajak-Sajak Bernando J. Sujibto

http://www.padangekspres.co.id/
PROSESI XXV

tubuh ini adalah bastar di sebuah altar yang dingin
menjumpai hari-hari seperti patung di malam buta
lengking percakapan demi percakapan kaum paria tertelan
gerhana dan malam celaka eksodus ke kampung ingatan

padamkan matamu, padamkan mataku, rilke

aku akan kembali kepada kepekatan hikayat nenek moyang
menyerahkan tubuh kepada bunga-bunga musim di jalannya
memeram reguk-keminyan dan ritual agung di sebuah goa
tanpa borgol dan kunci-kunci keserakahan tengek dunia
gema doa menajamkan kilap batu akik, juga sorot mata kita
menembus dinding batu dan langit yang membuka selangkang
jalan-jalan menawarkan bunga kepada para pelayatnya
sumarah juntai tetangkai bulan-bulan terbuai, aduhai....

nyalakan mataku, nyalakan matamu, rilke

aku akan menjemputmu dengan nyala mata pelangi
mengajakmu kembali kepada masa silam kita sendiri
di sini akan tergali jalan-jalan takdir yang tak terhenti

2007/2008



Lambai Nyiur Teluk Bayur, ii

1/
liuk nyiur berderai
ke simpang lambai
terberai seta…

Sajak-Sajak Badruddin Emce

http://www.republika.co.id/
RUMAH ORANG TUA
: Raudal Tanjung Banua

Adakah masa kanakku
masih di tangan mereka?

Di ruang tengah rumah mereka
duka gembira tak dibuat-buat
tak perlu menjadi terang.

Coba lempar pandang ke luar!
Kebun samping mereka
telah kutanami tanaman semestinya.

Tetapi kepada rumput, kata hati
yang keprucut, mereka bisa maklum.
Setengahnya bahkan kagum.

Kawan, jika engkau bertamu
ke rumah pinggir jalan besar itu
hingga kemalaman
ada tersedia dekat ruang tamu, sebuah kamar
bagi yang ingin lepas yang sulit dilepas!

Maka engkau akan lebih merindukan mereka
dari pada merindukanku.
Dan mereka akan sering tanyakan kabarmu
kepadaku.

Cemburu aku!

Kroya, 2008



TEMAN ABADI

Sore itu, menjelang maghrib
demamku naik lagi.
Adakah udara sekitar turut mendidih?
Di dahan rambutan depan rumah
beberapa ekor burung jempalitan
seperti mendamba sesuatu
yang menyegarkan
Lalu aku mengigau!

Tentu kebahagiaan tersendiri
jika kata-kata penuh birahi ini
bagimu menyemangati
Dan kau tak halangi ini jadi abadi

Kroya, 2008



JERAMI

Bara kemb…

Sajak-Sajak Jafar Fakhrurozi

http://www.republika.co.id/
PULANG KAMPUNG

aku selalu rindu kampung
rindu rumah dan sangkar walet
sepasang sahabat yang teduh
kami karib setiap kali hujan

aku selalu rindu sawah
rumah bagi segala gundah
anak-anak lumpur yang galau
menangis tersengat semut api

aku rindu irama malam
riang anak-anak mengaji di surau
anak-anak qur’an yang lugu
melantunkan nyanyian malam

ah, aku benar-benar rindu
memutar lagu-lagu itu

Am, 2008



ANTARA ISTIQLAL DAN KATEDRAL

antara istiqlal dan katedral
aku mematung di hitam kali ciliwung
melafalkan zikir atau nyanyi kemanusiaan
sebagaimana yang kudengar kala subuh
serta denting lonceng di ceruk pagi

dapatkah aku pahami
seumpama banjir menyapu kota tua ini
sekejap melenyapkan baris tangis di sini

begitulah, antara istiqlal dan katedral
aku senantiasa bermimpi
menjadi gerimis yang lembut
menyirami taman kelelahan zaman

Am, 2008



TAMAN SUROPATI

aku melamun di sini bersama dengkur merpati
memasuki halaman gedung berpagar langit
merebut senapan dari sangkur penjaga
menyelinap senyap ke kamar-kamar …

Sajak-Sajak Endang Supriadi

http://www.republika.co.id/
SURAT YANG BELUM SEMPAT
TERKIRIM BUAT IBU

Tak bosan kujelaskan lagi padamu, Ibu,
bahwa pikiran-pikiran kami seperti halaman koran hari ini
selalu bersambung ke halaman lain.
Tapi, sejak anak-anakmu tumbuh jadi benalu di rumah sendiri
engkau tak pernah lagi melihat matahari bertengger di atas kepala kami.
Kami sudah belajar dari buku, dari sejarah atau dari para musafir yang mati sia-sia.
Tapi kami merasa telah jadi kecoa dalam tabung.
Bagaimana kami bisa berkata-kata lagi
bila lidah kami terjepit pagar kemunafikan?

Di musim menangis ini,
engkau tak pernah memegang sapu tangan.
Benang kesabaran dan ketabahan telah menghapus airmatamu.
Tapi, katakan, Ibu, harus di mana kami tinggal.
Harus bagaimana kami berjalan.
Sejak kebebasan terbelenggu oleh kekuatan-kekuatan, kami jadi lumpuh.
Di tubuh kami cuma ada darah dan mata yang masih bisa bergerak.
Entah di mana pikiran kami.
Orang-orang belajar menggali sumur dari dalam rumah sakit.
Satu keluarga atau mungkin sendirian menaiki tangg…

Sajak-Sajak Husnul Khuluqi

http://www.republika.co.id/
PEREMPUAN DI SABUK LINDU

ketika kecil menjelang tidur
ibu sering bercerita tentang seekor naga raksasa
yang tidur di perut bumi, jauh di bawah akar-akar
pohon besar

ia akan marah melihat anak-anak nakal
anak-anak yang suka memusuhi teman
anak-anak yang melawan orang tua
anak-anak yang malas mandi dan pergi
tidur tanpa mencuci kaki

karena itu, sebelum tidur kau pun mencuci
kaki, lalu berangkat ke dekapan ibu seraya
berharap naga tidak menggerakkan buntut
atau tubuhnya sehingga kau bisa bermimpi pergi
ke istana peri hingga pagi

sebab sedikit saja naga bergerak
bumi bergetar. pohon-pohon tumbang
lampu-lampu bergoyang. dan angin mendadak
berhenti berputar

sekarang, kau tak lagi mendengar dongeng itu
ketika rumah-rumah rata dengan tanah
jalan-jalan menjulur terbelah, ternak-ternak mati
tak bisa lari. kau lihat di sekelilingmu hanya
tumpukan mayat dengan bau yang menyengat

dan perihmu akan selalu menggunung
setiap kali tanah di kakimu berguncang
menggetar tulang

Tangerang, 2006



LANGGAM BANTE…

Sajak-Sajak Rukmi Wisnu Wardani

http://www.infoanda.com/
MAKRIFAT CENTHINI

setua umur bumi inilah aku datang dan pergi
berganti rupa untuk yang kesekian kali
tanpa tahu batas waktu menunggu

sekalipun sukmaku dan sukmaMu satu
sekalipun Kau berada di dalamku
dan aku berada di dalamMu
tetap saja, aku tak dapat mendahuluiMu
sebab tirai itu harus Kau yang buka

kalaupun asmara ini melahirkan agama
hingga setumpuk kitab suci
semua hanya sebatas rambu
tapi bukan pintu

: al maut! al maut!
inilah kebangkitan asmara yang sesungguhnya
inilah purba harta dalam tembang sakral kebirahian jawa
inilah perjalanan menuju arasy tanpa wadaqnya
inilah hakikat moksa seiring tarian mahabahnya

sesempurna rekah wijaya kusuma di hening malam
yang menyisakan wanginya di tepian subuh

Mei, 2005



TIRAI MALAM

laksana ego yang terkikis kematangan ombak
Kau telanjangi kebetinaanku selapis demi selapis
dan seutuh purnama itulah akhirnya
Kau jinakkan birahiku yang asma

mari, singkap lagi tarian purba nirwana itu
seperti ketika Kau lilit aku dalam cumbu paling nyala

ini aku merak b…

Sajak-Sajak W.S. Rendra*

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
BULAN KOTA JAKARTA

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya!

O, gerilya kulit limau!
O, betapa lunglainya!

Bulan telah pingsan.
Mama, bulan telah pingsan.
Menusuk tikaman beracun
dari lampu-lampu kota Jakarta
dan gedung-gedung tak berdarah
berpaling dari bundanya.

Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
bocah pucat tanpa mainan,
pesta tanpa bunga.

O, kurindu napas gaib!
O, kurindu sihir mata langit!

Bulan merambat-rambat.
Mama, betapa sepi dan sendirinya!

Begitu mati napas tabuh-tabuhan
maka penari pejamkan mata-matanya.

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya.

Bulanku! Bulanku!
Tidurlah, Sayang, di hatiku!



KALANGAN RONGGENG

Bulan datang, datanglah ia!
dengan kunyit di wajahnya
dan ekor gaun
putih panjang
diseret atas kepala-kepala
dirahmati lupa.
Atas pejaman hati
yang rela
bergerak pinggul-pinggul bergerak
ronggeng palsu yang indah
para lelaki terlahir dari darah.
Wahai manis, semua orang di kalangan
tahu apa bahasa bul…

Sajak-Sajak Bakdi Sumanto

http://sastrakarta.multiply.com/
DASA KANTA

1. TIKAR

Dengan tegas tegar
Kita menyatakan
Bahwa kita ini tikar
Orang-orang tua duduk berdoa
Orang-orang muda bercanda
Mudi-muda ciuman
Yang berselingkuh berdekapan
Dan berbadan
Pencuri menghitung curian
Koruptor berbagi hasil
Dengan kroni dan koleganya
Guru menilai pekerjaan siswa
Ahli bahasa mencari kesalahan karya-karya
Bayi-bayi ngompol
Balita-balita ek-ek
Penyair-penyair jongkok sambil ngrokok
Aktor-aktor latihan gerak indah
Pelukis-pelukis nglamun
Politikus cari akal mendepak teman seiring
Anggota DPR bikin rencana naikkan gaji
Dan studi banding ke luar negeri
Lalu, para penjudi membanting kartu-kartu

Kita ini tikar
Ketika datang kasur
Tikar akan segera digulung-gusur
Dibakar atau dibuang ke tong sampah
Dan dilupakan oleh sejarah

Oberlin, Okt 1986



2. HUJAN

Hujan tak turun
Ketika petani memerlukan air
Tetapi air tetap mengucur
Dari pori-pori tubuhnya
Membasah pada kaos
Yang sudah tiga hari
Tak dicuci air

Sekali air disuntak dari langit
Dan di sawah & ladang
Terjadi banji…

Sajak-Sajak Asa Jatmiko

http://www.kompas.com/
Kamar Pengantin

akhirnya aku menjumpaimu di sini
di antara wangi kenanga dan warna biru
berkubang dalam satu gerabah
puncak dari perjalanan yang rumit
dan setelah kita meroncenya
menjadi perhiasan di sanggulmu dan leherku

tetapi cinta bukanlah sajak
juga bukan keindahan itu sendiri
di dalam satu gerabah
kita bertukar jawab dengan jujur
aku menjumpai huruf yang tercipta di hatimu
kamu pun akan tahu betapa ringkihnya aku
di sini kita beradu rasa cemas
karena kenyataan memang lebih menyakitkan

turunlah, kutunggu kamu di sini
berkubang dalam satu gerabah
agar kita tahu pantaskah kita bernama cinta

Kudus, Oktober 2008



Nol

sudah aku serahkan semuanya padamu
kacamata, topi, hanger, baju, sarung
termasuk nasib baik yang mestinya aku terima
hari ini kau meminta lagi
apapun yang masih aku miliki
padahal kau tahu aku tak punya apa apa lagi
mestinya kau tahu jika kau terus memaksaku
akhirnya aku berani melawanmu

Kudus, Oktober 2008.



Daun Telinga yang Perawan

ingin aku membisikkan kata
di ujung daun te…

Sajak-Sajak Mardi Luhung

http://cetak.kompas.com/
Seperti Adam yang Bersepeda

Seperti Adam yang bersepeda, aku juga bersepeda di pantai. Sepeda besar, ban besar dengan tuter yang berat dan gembung. Yang jika dipukul bergaung dan menembusi setiap yang telah dan akan dilalui. Membukai arah-arah yang baru. Seperti sepeda Adam, sepedaku juga berwarna ungu. Dan setiap terkayuh, jejak bannya menggoresi pasir. Membentuk selang-seling yang dalam. Yang kelak akan dibaca sebagai awal huruf. Huruf di dalam setiap lekukan lidah. Dan seperti Adam yang turun dari sepedanya, aku juga turun dari sepedaku. Menghampiri tepi pantai. Memasang umpan. Lalu melemparkan mata pancing. Seloroh gertak akaran dan karang: Apa yang ingin kau pancing? Jawabku, sama seperti jawaban Adam: Aku ingin memancing Eden. Memang, setelah pengusiran dulu, Eden terus ditenggelamkan di pantai. Dedasaran menyimpannya di suatu ceruk. Yang kata kabar dari entah: Akan menyembul jika dipancing. Dipancing tepat matahari sampai geser dan angin berhenti di sudut…

Sajak-Sajak Ahmadun Yosi Herfanda

http://sastrakarta.multiply.com/
NYANYIAN KEBANGKITAN

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Akankah kau biarkan aku duduk berduka
Memandang saudaraku, bunda pertiwiku
Dipasung orang asing itu?
Mulutnya yang kelu
Tak mampu lagi menyebut namamu

Berabad-abad aku terlelap
Bagai laut kehilangan ombak
Atau burung-burung yang semula
Bebas di hutannya
Digiring ke sangkar-sangkar
Yang terkunci pintu-pintunya
Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya

Berikan suaramu, kemerdekaan
Darah dan degup jantungmu
Hanya kau yang kupilih
Di antara pahit-manisnya isi dunia

Orang asing itu berabad-abad
Memujamu di negerinya
Sementara di negeriku
Ia berikan belenggu-belenggu
Maka bangkitlah Sutomo
Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo
Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro
Bangkitlah semua dada yang terluka
“Bergenggam tanganlah dengan saudaramu
Eratkan genggaman itu atas namaku
Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.”

Suaramu sayup di udara
Membangunkanku
Dari mimpi siang yang celaka

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di an…

Sastra-Indonesia.com